Hasil Survei: Sejumlah Pakar Soal Perang Lawan Iran Trump Ambil Risiko Sulit Diprediksi dan Lebih Berbahaya

Aktivis anti-perang unjuk rasa di depan Gedung Putih. (Andrew Caballero-Reynolds/AFP/Getty)
Aktivis anti-perang unjuk rasa di depan Gedung Putih. (Andrew Caballero-Reynolds/AFP/Getty)
0 Komentar

Panikoff mencatat, Presiden Trump berada dalam posisi yang sulit setelah menjanjikan bantuan kepada para demonstran Iran, tetapi tidak melakukannya, yang akan membuat rezim Iran semakin berani dan meragukan ancaman Trump di masa depan.

Ketiga, Dennis Ross: Tepi Jurang

Dennis Ross, mantan utusan khusus AS untuk Timur Tengah, menggambarkan eskalasi saat ini di kawasan itu sebagai sesuatu yang paradoks, karena tidak ada pihak yang menginginkan perang yang lebih luas.

Ross menjelaskan Presiden Trump tidak menginginkan perang yang sulit dihentikan dan dapat menyebabkan kenaikan tajam harga minyak.

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

Sementara rezim Iran menyadari betapa lemahnya pertahanan udaranya dan kemampuannya untuk mengendalikan rakyat, terutama jika perang meningkat.

Berdasarkan hal tersebut, Ross berpendapat bahwa tidak ada pihak yang menginginkan perang yang lebih luas dan eskalasi yang dapat lepas kendali, dan masing-masing pihak melihat bahwa pihak lain mungkin akan mundur dari garis merah mereka, sehingga mereka akan benar-benar bermain di tepi jurang.

Keempat, Ray Takeh: Lingkaran balas dendam

Ray Takeh, seorang rekan senior di Dewan Hubungan Luar Negeri di Washington, berpendapat Amerika Serikat mungkin akan menyerang Iran, tetapi rezim yang berkuasa di sana mungkin akan membalas dan membunuh tentara Amerika dalam serangan itu, yang akan memicu serangan Amerika lebih lanjut.

Taka menambahkan, situasi ini dapat berkembang menjadi spiral balasan dan pembalasan, karena operasi militer yang mungkin dilakukan tidak memiliki tujuan strategis yang koheren atau penjelasan yang jelas di tengah kurangnya akuntabilitas dan pertanggungjawaban dari pihak Kongres.

Kelima, Arash Azizi: Kesepakatan yang Mungkin Terjadi

Arash Azizi, penulis di majalah The Atlantic dan penulis buku “What Iranians Want: Women, Life, Freedom”, berpendapat apa yang disebutnya sebagai kesombongan berlebihan Presiden Trump terhadap tindakan militer bisa jadi berbahaya, karena akan berakhir dengan perluasan konflik oleh Iran yang akan menyebabkan ketidakstabilan di kawasan tersebut.

Menurut skenario ini, Iran mungkin akan mengalami konsekuensi yang parah, tetapi para pemimpin militernya mampu melanjutkan konfrontasi untuk mempertahankan kekuasaan mereka.

0 Komentar