Hasil Survei: Sejumlah Pakar Soal Perang Lawan Iran Trump Ambil Risiko Sulit Diprediksi dan Lebih Berbahaya

Aktivis anti-perang unjuk rasa di depan Gedung Putih. (Andrew Caballero-Reynolds/AFP/Getty)
Aktivis anti-perang unjuk rasa di depan Gedung Putih. (Andrew Caballero-Reynolds/AFP/Getty)
0 Komentar

AMERIKA Serikat sekali lagi berada di ambang perang dengan Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Teheran guna menghentikan program nuklirnya dengan mengerahkan armada militer besar yang terdiri dari pesawat dan kapal perang ke Timur Tengah, yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah tersebut sejak Perang Irak.

Situs Politico Amerika melakukan survei terhadap tujuh pakar yang mengeksplorasi keuntungan, dan risiko potensial dari tindakan militer terhadap Iran.

Mereka sepakat bahwa Presiden Trump mungkin akan mengambil risiko yang sulit diprediksi dan dianggap lebih berbahaya daripada manuver-manuvernya sebelumnya.

Pertama, Ryan Crocker: Tidak ada mundur kali ini

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

Ryan Crocker, mantan duta besar untuk Afghanistan, Irak, Pakistan, Suriah, Kuwait, dan Lebanon, menyatakan dirinya tidak yakin Iran akan tunduk terhadap permintaan Washington untuk berhenti mengolah uranium, membatasi rudal balistik, dan berhenti menyokong agen-agennya di kawasan itu. Menurutnya, tunduk terhadap permintaan itu akan mengakibatkan Republik Islam Iran tamat.

Crocker, yang saat ini menjadi pakar urusan diplomatik dan keamanan di Rand Corporation, berpendapat Presiden Trump tidak akan mundur dan jika tidak tercapai kesepakatan dengan Iran, dia akan memulai tindakan militer, mungkin terbatas pada awalnya, dalam upaya memaksa Iran menerima kesepakatan.

Jika itu tidak berhasil, tambah Crocker, Trump akan memperluas operasi dengan menargetkan kemampuan rudal Iran untuk melemahkan rezim, termasuk kepemimpinan agama dan militer.

Jika rezim jatuh, Crocker memperkirakan bahwa perwira militer yang tidak dikenal akan mengambil alih kekuasaan dan kekerasan internal akan meluas.

Kedua, Jonathan Panikoff: Tidak ada strategi yang jelas

Jonathan Panikoff, pejabat di Atlantic Council dan mantan Wakil Kepala Intelijen nasional untuk Timur Tengah, mengatakan Presiden Trump bertindak tanpa tujuan yang jelas atau strategi yang spesifik.

Dia menegaskan tindakan militer memiliki risiko yang sangat besar dan tidak akan menghasilkan penangkapan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Panikoff menambahkan, jika rezim Iran terancam, responsnya mungkin akan luas, tidak hanya terbatas pada peluncuran rudal balistik ke Israel atau pangkalan dan personel Amerika di kawasan itu, tetapi juga dapat mencakup serangan teroris dan elektronik di seluruh dunia.

0 Komentar