PENGAMAT hubungan internasional, Heru Subagia, menilai kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Amerika Serikat tidak hanya semata berbicara bahwa kita adalah mayoritas muslim dan perjuangan terhadap masyarakat Palestina.
“Ada banyak misi besar dan urgent yang sangat rapat berkaitan dengan kepentingan nasional dan ini tentunya ada perbaikan bagaimana sustainable atau keberlangsungan pemerintahan Prabowo itu sendiri,” ungkapnya saat ditemui, Senin (23/2).
Perlu diketahui dalam waktu beberapa terakhir, kata Heru, Indonesia sudah terkena apa yang disebut sebagai guncangan ekonomi dunia. Menurutnya, hal ini membuktikan bagaimana politik, tatanan politik ekonomi dunia ini masih terlalu realis oleh aliran-aliran yang pro barat.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
“Ini menjadi pemikiran yang sangat harus dipahami bagaimana logika politik dan juga komunikasi politik Prabowo terhadap masyarakat Indonesia dan komunitas internasional. Mengapa Indonesia masuk dalam Board of Peace, tentunya isu-isu ini sangat erat konflik kepentingan terutama yang sangat mendasar, ekonomi politik internasional itu sendiri,” jelas Heru.
Alumni Universitas Gadjah Mada ini memaparkan ada beberapa referensi dunia bahwa pelaku usaha dunia dan pemain ekonomi global nyaris 40 persen adalah keturunan Yahudi. “Ini tidak bisa dipungkiri, mereka berada di lembaga keuangan internasional dan terafiliasi lingkungan bisnis yang tata kelola jaringan berhubungan dengan masyarakat Yahudi dan keturunannya,” paparnya.
Ini harga mati, tegas Heru, Indonesia sudah melakukan negosiasi dagang dan misi politik luar negeri yang heboh saat ini. “Saya melihat bahwa ternyata ada pola hegemoni politik internasional yang dimainkan Indonesia. Arah awalnya lebih condong pada kekuatan politik utara, yng dimotori India, Cina, Rusia, dan BRICS ini serta mereka tidak terwakili kepentingan ekonomi secara mendalam dan secara terukur,” ujarnya.
Lebih lanjut, amatan Heru bagaimana urgensi Prabowo sendiri menghadapi tekanan-tekanan ekonomi internal Indonesia. Terutama, yang yang notabene mewarisi sistem tata kelola ekonomi liberal. “Coba bayangkan ketika kita akrab dengan Rusia dan organisasi Islam. Dampak secara ekonomi tentunya tidak memberikan perubahan yang signifikan,” katanya.
Ia mempelajari dan meyakini bahwa dengan kolaborasi Timur Tengah dan Israel dijadikan mitra strategis dalam bentuk work of peace sebagai isu-isu yang meletakkan landasan Prabowo untuk turut serta dalam politik perdamaian dunia. “Tujuan Prabowo lebih melipatkandakan kepentingan ekonomi Indonesia untuk menyelamatkan roda pemerintah Indonesia. Dalam waktu dekat ini, sangat urgen bagaimana Indonesia beralih dari krisis multidimensi yang dipuji oleh akibat krisis keuangan global dan memicu kerentanan ekonomi domestik yang nyata berada dalam zona sangat berbahaya,” jelasnya.
