PRESIDEN RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan kuliah umum di Lemhannas terkait kondisi geopolitik dunia. Dalam kesempatan itu, SBY menyinggung Amerika Serikat (AS) yang mau jadi negara unipolar atau satu-satunya penguasa dunia.
SBY awalnya menjelaskan situasi dunia saat era Perang Dingin dulu. SBY menyebutkan kala itu dunia berada pada kondisi bipolar di antara dua blok besar dunia.
“Kemudian, yang berikutnya lagi ini urusan kerja sama ekonomi, urusan perdagangan internasional, ya memang sudah terjadi pergeseran, sebetulnya Perang Dingin dulu bipolar, Blok Barat, Blok Timur,” kata SBY di gedung Lemhannas, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
SBY menyebutkan setelah perang dingin, AS ingin menjadi lone ranger atau negara yang bergerak sendiri untuk mencapai tujuannya. Selain itu, ia menilai AS diramalkan menjadi The Triumph of Liberalism dan The Death of Communism and Authoritarianism.
SBY menilai perubahan terjadi seiring zaman. Pada saat ini, menurut dia, seharusnya dunia sudah menjadi multipolar.
“Artinya apa? Sudah terjadi dan sekarang ini mestinya kembali ke multipolar, paling tidak Amerika, Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, beberapa negara BRICS. Sadarilah kita hidup dalam tatanan multipolar,” ucapnya.
Namun SBY menilai AS tidak menginginkan itu. AS, lanjut dia, mau menjadi unipolar atau satu-satunya penguasa di dunia.
“Amerika ingin kembali unipolar Amerika alone sebagai global leader, global corp, zebagai lone ranger,” tuturnya.
Karena itulah SBY menilai saat ini penting bagi Indonesia untuk memosisikan diri. “Tetapi cara berpikir kita adalah kita harus kembali bisa menavigasi, bisa memosisikan kita, langkah kita dalam tatanan atau polarisasi atau polaritas global seperti sekarang ini,” lanjut dia.
