PEMERINTAH Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah menyepakati perjanjian tarif dagang yang ditandai dengan penandatanganan dokumen Agreement on Reciprocal Tariff (ART) bertajuk “Toward a New Golden Age for the US-Indonesia Alliance” oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump.
Namun, lampiran perjanjian tersebut ditindaklanjuti dengan penandatanganan oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer di kantor United States Trade Representative (USTR).
Menurut Airlangga, penandatanganan dokumen ART secara langsung oleh Prabowo dan Trump menunjukkan kedekatan hubungan antara kedua pimpinan negara tersebut.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
“Perjanjian ART ini yang tadi ditandatangani oleh kedua pemimpin negara ini menunjukkan bahwa dekatnya hubungan antara Bapak Presiden Prabowo dengan Bapak Presiden Trump,” ujarnya dalam konferensi pers Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Indonesia-AS secara daring, Jumat (20/2/2026).
Karena kedekatan tersebut pula, Indonesia berhasil memastikan ART tidak terbatas pada perjanjian dagang semata, melainkan juga mencakup komitmen investasi dari AS. Selain itu, ART dapat diteken langsung oleh kedua kepala negara, meskipun dokumen lampirannya disahkan oleh Airlangga dan Greer.
Hal ini dinilai bukan menjadi persoalan, mengingat banyak kesepakatan dagang antara AS dengan sejumlah negara lain ditandatangani pada level menteri.
“Dengan kedekatan kedua negara ini perjanjian ART menjadi satu level dan juga perjanjian ART ini tidak murni ART trade, tetapi juga investasi banyak negara juga yang perjanjian ini tidak ditandatangani oleh kepala negara tetapi di level menteri,” jelas dia.
Keistimewaan bagi Indonesia semakin terlihat ketika Prabowo memperoleh kesempatan untuk berbicara langsung dengan Trump terkait kesepakatan bilateral tersebut. Padahal, dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP), banyak kepala negara yang hadir di Washington.
“Jadi, khusus mengenai Indonesia apalagi hari ini kita ketahui jumlah kepala negara yang hadir juga banyak tetapi yang diberikan kesempatan untuk berbicara mengenai agreement dan bilateral hanya Presiden Indonesia, Presiden Prabowo. Saya pikir ini menjadi catatan penting,” kata Airlangga.
Sementara itu, melalui kesepakatan ini Indonesia berkomitmen menghapus hambatan tarif terhadap lebih dari 99 persen produk AS yang diekspor ke Indonesia di seluruh sektor, termasuk produk pertanian, kesehatan, makanan laut, teknologi informasi dan komunikasi, otomotif, serta bahan kimia. Sebaliknya, Indonesia memperoleh pembebasan bea masuk untuk 1.819 pos tarif, baik dari sektor pertanian maupun industri.
