Friedman bahkan melangkah lebih jauh dengan menjelaskan bahwa jika pemerintah Israel terus melanjutkan pendekatannya, hal itu akan memecah belah komunitas Yahudi menjadi dua kubu, yaitu yang mendukung dan yang menentang, serta menempatkan generasi baru pada kenyataan bahwa negara Yahudi telah ditolak.
Menurut Friedman, masalahnya tidak cuma di bidang luar negeri, tapi juga di dalam negeri Israel, di mana Netanyahu dituduh berusaha melemahkan kekuasaan yudikatif dan merongrong kemandirian lembaga-lembaga, serta menghalangi penyelidikan dan tindakan yang berkaitan dengan supremasi hukum, termasuk yang terkait dengan kegagalan serangan 7 Oktober 2023.
Friedman menganggap ancaman internal ini lebih berbahaya bagi demokrasi Israel daripada Iran sendiri. Dia menyimpulkan bahwa Iran merupakan ancaman nyata, tetapi menyederhanakan segala sesuatu di Iran hanya menguntungkan Netanyahu secara politik.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Menurutnya, jika Israel terlibat secara serius dalam proses penyelesaian dua negara, pintu akan terbuka untuk normalisasi yang lebih luas dengan negara-negara Arab, dan kepentingan Amerika di kawasan itu akan diperkuat.
Sedangkan melanjutkan aneksasi dan mengukuhkan dominasi permanen, menurutnya, akan menguntungkan Teheran dan merusak posisi Israel serta hubungannya dengan Washington.
Friedman menyimpulkan dengan menegaskan bahwa Iran bukanlah ancaman terbesar bagi Israel sebagai negara demokratis yang diatur oleh supremasi hukum, juga bukan ancaman terbesar bagi hubungan Amerika-Israel.
Iran juga bukan ancaman terbesar bagi persatuan dan keamanan orang Yahudi di seluruh dunia, bukan penyebab emigrasi sejumlah besar tenaga ahli Israel, seperti teknisi, insinyur, dan dokter, dan bukan penyebab utama Israel berubah menjadi negara yang melakukan apartheid, bukan hanya karena penolakannya untuk mendirikan negara Palestina yang merdeka, tetapi juga karena upayanya yang gigih untuk membuat hal itu mustahil, menurutnya.
Sebaliknya, penyebab dari semua itu adalah pemerintahan yang terdiri dari kaum fanatik Messianik, nasionalis yang membenci Arab, dan kaum Israel garis keras yang menentang modernisasi, yang dikumpulkan oleh Benjamin Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaannya, menurutnya.
