Penasihat Donald Trump Yakin 90 Persen Aksi Militer Amerika Serikat dalam Beberapa Pekan Mendatang

Dalam foto selebaran ini diperoleh dari AS. Departemen Pertahanan, kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincol
Dalam foto selebaran ini diperoleh dari AS. Departemen Pertahanan, kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) dan kapal perusak rudal berpemandu kelas Arleigh Burke USS Frank E. Petersen Jr. (DDG 121) berlayar di Laut Arab, 6 Februari 2026. Menurut pemerintah AS, Abraham Lincoln Carrier Strike Group dikerahkan ke area operasi Armada ke-5 AS untuk mendukung keamanan dan stabilitas maritim di Timur Tengah. Penyebaran ke wilayah tersebut terjadi ketika AS terus menekan Iran atas program nuklirnya dan tanggapannya terhadap protes anti-pemerintah baru-baru ini. (Mass Communication Specialist 1st Class Jesse Monford/U.S. Navy via Getty Images)
0 Komentar

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan bahwa Trump “menempatkan semua opsi di atas meja terkait Iran,” dan keputusan akan dibuat berdasarkan kepentingan keamanan nasional.

Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk keperluan sipil. Pejabat AS menyebut penguatan militer ini dimaksudkan untuk memastikan kesiapsiagaan dan mencegah balasan jika upaya diplomasi gagal dilakukan.

Saat ditanya mengenai negosiasi dengan Iran, Trump mengatakan dia berpikir bahwa negosiasi tersebut akan “berhasil.”

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

“Dan jika tidak, itu akan menjadi hari yang buruk bagi Iran — sangat buruk,” ucapnya.

AS dan Iran mengadakan pembicaraan tidak langsung di ibu kota Muscat pada 6 Februari dengan mediasi Oman untuk membahas program nuklir Teheran.

Pertemuan tersebut menandai berakhirnya penangguhan selama sekitar delapan bulan setelah AS melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran di tengah eskalasi konflik Iran-Israel pada Juni 2025.

Di tengah negosiasi tersebut, AS secara signifikan meningkatkan kehadiran militernya di kawasan itu. Trump juga memperingatkan Iran bahwa negara itu harus mencapai kesepakatan.

Pengayaan uranium tetap menjadi titik utama perselisihan. AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan memindahkan uranium yang diperkaya tingkat tinggi ke luar negeri. Tuntutan tersebut ditolak dengan tegas oleh Teheran.

Washington juga berupaya memasukkan program rudal Iran serta dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan ke dalam negosiasi, tetapi Teheran berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan merundingkan isu di luar program nuklirnya.

Latihan laut yang dilakukan Garda Revolusi di Selat Hormuz juga telah berelangsung, di mana kantor berita Fars melaporkan penutupan sebagian selat selama beberapa jam sebagai bagian dari latihan, dengan mempertimbangkan prinsip keselamatan dan navigasi laut.

Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalPrabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti Kena

Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi juga mengumumkan kesiapan pasukannya untuk menutup selat jika para pemimpin tinggi Iran memutuskan demikian, dalam langkah yang mengingatkan kembali pentingnya jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Garda Revolusi sebelumnya telah mengumumkan bahwa manuvernya di selat tersebut bertujuan untuk menguji kesiapan dan meninjau rencana operasional untuk menghadapi ancaman, di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan tersebut dan pengerahan kapal induk tambahan.

0 Komentar