RIBUAN warga memadati rangkaian kegiatan Salatiga Beda Festival 2026 yang digelar selama tiga hari, 13–15 Februari 2026, di berbagai titik pusat kota Salatiga. Festival tahunan yang mengusung semangat keberagaman dan toleransi ini berlangsung meriah dengan menghadirkan pawai budaya, pentas seni lintas komunitas, bazar UMKM, hingga forum dialog kebhinekaan.
Kegiatan dipusatkan di Lapangan Pancasila serta sejumlah ruas jalan protokol yang disulap menjadi ruang publik kreatif. Pemerintah Kota bersama komunitas lintas agama dan budaya berkolaborasi menghadirkan acara yang menonjolkan identitas Salatiga sebagai kota toleran di Jawa Tengah.
Hari Pertama: Pembukaan dan Pawai Budaya
Festival resmi dibuka pada Jumat (13/2) sore dengan parade budaya yang diikuti puluhan kelompok seni dari berbagai daerah. Peserta menampilkan tarian tradisional, musik etnik, hingga kostum adat nusantara. Pawai tersebut menyedot perhatian masyarakat yang memadati sepanjang rute dari Balai Kota menuju Lapangan Pancasila.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Wali Kota Salatiga dalam sambutannya menyampaikan bahwa festival ini menjadi simbol persatuan dalam keberagaman. Ia menegaskan bahwa perbedaan suku, agama, dan budaya merupakan kekuatan utama masyarakat Salatiga. Malam harinya, panggung utama menampilkan konser musik lintas genre yang menghadirkan musisi lokal dan nasional, diselingi pertunjukan teater serta pembacaan puisi bertema kebhinekaan.
Hari Kedua: Dialog Kebhinekaan dan Bazar UMKM
Memasuki Sabtu (14/2), kegiatan diisi dengan seminar dan dialog kebhinekaan yang menghadirkan tokoh agama, akademisi, serta pegiat sosial. Diskusi membahas pentingnya menjaga toleransi di tengah dinamika sosial masyarakat modern. Di area yang sama, ratusan stan bazar UMKM menawarkan kuliner khas daerah, kerajinan tangan, hingga produk kreatif anak muda.
Bazar ini menjadi salah satu magnet utama karena memberikan ruang promosi bagi pelaku usaha lokal sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat. Selain itu, digelar pula lomba seni antar pelajar, workshop kreatif, dan permainan tradisional yang melibatkan keluarga.
Hari Ketiga: Pentas Seni dan Penutupan
Pada hari terakhir, Minggu (15/2), festival ditutup dengan pentas seni kolaboratif lintas komunitas, termasuk paduan suara antar gereja dan masjid, pertunjukan tari modern, serta atraksi budaya nusantara. Suasana haru dan kebersamaan terasa saat seluruh peserta menyanyikan lagu persatuan sebagai penutup acara.
