MENTERI Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut ada sebanyak 29 desa di Sumatra hilang akibat bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di periode November-Desember 2025. Hal ini ia sampaikan pada rapat bersama DPR RI di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (18/2/2026).
Menurut Tito, berdasarkan kawasan, desa yang hilang paling banyak berada di Aceh. Sementara itu, tak ada desa yang hilang di Sumatera Barat.
“Jadi, ada desa yang hilang 29 karena terbawa longsor atau terkena banjir. Di Aceh paling banyak, yaitu 21 desa gampong yang hilang,” tuturnya.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
“Sumatera Utara ada delapan desa yang hilang, khususnya di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah. Sumatera Barat, alhamdulillah tidak ada desa yang hilang,” imbuh dia.
Tito menyatakan, pemerintah pusat akan menindaklanjuti administrasi dari puluhan desa yang hilang tersebut. Kini, ada dua opsi sebagai tindak lanjut puluhan desa itu.
Pilihan pertama, pemerintah pusat akan mendirikan kembali desa-desa yang hilang. Pilihan kedua, pemerintah pusat bakal menghapus puluhan desa yang hilang dari administrasi pemerintahan.
“Ini juga perlu penyelesaian, relokasi, dan juga administrasi pemerintahan desa nantinya. Karena desanya yang hilang itu nanti apakah kita akan bangun kembali atau dihilangkan dalam administrasi pemerintahan,” ucap Tito.
Sementara itu, ia menyatakan, pengungsi bencana di Sumatra yang bertempat tinggal di tenda kini masih mencapai sekitar 12.000.
Kata Tito, sisa pengungsi itu tersebar di Aceh dan Sumatera Utara. Lalu, tak ada lagi pengungsi yang bermukim di tenda di Sumatera Barat.
“Pengungsi juga tadinya 2 juta lebih, sekarang menjadi lebih kurang 12.994 [orang] yang ada di tenda,” ujarnya.
