Pengemudi Tabrak Anak WNI hingga Tewas di Kawasan Chinatown Singapura Bebas dengan Jaminan

Insiden kecelakaan di Singapura menewaskan seorang bocah perempuan berusia enam tahun dan melukai ibunya yang
Insiden kecelakaan di Singapura menewaskan seorang bocah perempuan berusia enam tahun dan melukai ibunya yang berusia 31 tahun. Keduanya adalah turis Indonesia yang sedang berlibur. (IST)
0 Komentar

PENGEMUDI yang menabrak seorang anak warga negara Indonesia (WNI) hingga tewas dalam kecelakaan di kawasan Chinatown, Singapura, telah dibebaskan dengan jaminan sesuai aturan hukum setempat, sementara proses penyelidikan dan persidangan masih berlangsung.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura telah mengetahui bahwa pengemudi perempuan berusia 38 tahun itu dibebaskan dengan jaminan (bail) sebagaimana diatur dalam sistem hukum Singapura.

Polisi Singapura sebelumnya menangkap pengemudi tersebut pada hari kejadian, 6 Februari, atas dugaan mengemudi tanpa kehati-hatian yang menyebabkan kematian.

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

Hingga kini, dikutip dari Channel News Asia, Selasa, 17 Februari 2026, Kepolisian Singapura (SPF) menyatakan penyelidikan masih berlangsung dan belum dapat memberikan rincian lebih lanjut.

Kecelakaan nahas itu terjadi sekitar pukul 12.00 siang di South Bridge Road, dekat Buddha Tooth Relic Temple, ketika keluarga WNI tersebut sedang menyeberang jalan.

Mobil listrik berwarna gelap yang keluar dari area parkir dan berbelok ke kanan menabrak Raisha Anindra Pascasiswi, 31, dan putrinya Sheyna Lashira Smaradiani, 6. Sang ayah, Ashar Ardianto, 30, yang mendorong kereta bayi dengan anak mereka yang lebih kecil, tidak tertabrak.

Sheyna mengalami luka berat di kepala dan meninggal dunia di Singapore General Hospital. Jenazahnya telah dipulangkan ke Jakarta dan dimakamkan pada 8 Februari.

Sementara itu, Raisha masih menjalani perawatan di unit perawatan intensif tingkat lanjut (High Dependency Unit) rumah sakit yang sama. Ia kini sudah dapat berkomunikasi, namun masih dalam kondisi lemah.

KBRI Singapura mengatakan Ashar masih sangat terpukul dan menolak semua wawancara media.

0 Komentar