PERINGATAN dua tahun kematian tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, diwarnai dengan pernyataan keras dari pihak keluarga. Lyudmila Navalnaya, sang ibu, menegaskan penilaian terbaru mengenai penggunaan racun dalam kematian putranya telah memvalidasi keyakinannya sejak awal Navalny memang dibunuh.
Pernyataan ini muncul setelah Inggris dan sekutu Eropa merilis pernyataan bersama pada Sabtu lalu. Mereka menyebut Navalny, yang tewas pada 2024, dibunuh menggunakan racun yang dikembangkan dari toksin katak panah (dart frog toxin). Para sekutu menyatakan hanya negara Rusia yang memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk menggunakan toksin mematikan ini.
“Ini mengonfirmasi apa yang kami ketahui sejak awal,” ujar Lyudmila saat mengunjungi makam putranya di Moskwa pada Senin (16/2). “Kami tahu bahwa putra kami tidak sekadar meninggal di penjara, dia dibunuh.”
Kremlin Bantah Keras Tuduhan
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Pemerintah Rusia dengan tegas menolak tuduhan tersebut. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut klaim tersebut bias dan tidak berdasar.
“Tentu saja kami tidak menerima tuduhan semacam itu. Kami tidak setuju, kami menganggapnya bias dan tidak beralasan. Faktanya, kami dengan tegas menolaknya,” kata Peskov pada Senin waktu setempat.
Di sisi lain, janda Navalny, Yulia, turut memperingati dua tahun kepergian suaminya melalui unggahan media sosial. Ia mengeklaim hasil analisis laboratorium dari dua negara terhadap sampel biologis yang diselundupkan telah membuktikan adanya pembunuhan. “Kami telah meraih kebenaran dan kami akan meraih keadilan suatu hari nanti,” tulis Yulia.
Warisan Perlawanan di Tengah Tekanan
Meski pengawasan ketat dan represi di Rusia terus meningkat, puluhan warga Moskwa serta beberapa diplomat asing tetap mendatangi pemakaman Borisovskoye pada Senin kemarin untuk menaburkan bunga di makam Navalny.
Navalny meninggal pada usia 47 tahun di koloni penjara Siberia saat menjalani hukuman 19 tahun penjara atas tuduhan “ekstremisme”. Sebagai kritikus paling vokal terhadap Presiden Vladimir Putin, ia dikenal luas karena kampanye antikorupsi yang mampu menggerakkan ratusan ribu orang ke jalanan.
Sebelum kematiannya yang misterius di penjara “Polar Wolf” di Lingkaran Arktik, Navalny sempat selamat dari upaya peracunan zat saraf Novichok pada 2020. Ia memilih kembali ke Rusia setelah menjalani perawatan di Jerman karena tidak ingin menyerah pada keyakinannya.
