MILITER Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran aset udara dan lautnya secara besar-besaran di Timur Tengah. Langkah agresif ini dilakukan tepat sebelum dimulainya perundingan nuklir dengan Iran di Jenewa yang dijadwalkan pada Selasa esok.
Sejumlah sumber militer menyebutkan pengerahan kekuatan ini bertujuan ganda, memberikan tekanan psikologis kepada Teheran sekaligus menyiapkan opsi serangan langsung jika negosiasi menemui jalan buntu. Saat ini, jet tempur F-15, kapal induk USS Abraham Lincoln, serta pesawat tanker pengisi bahan bakar telah diposisikan di titik-titik strategis seperti Yordania, Bahrain, dan Arab Saudi.
Opsi Militer dan Isu Pergantian Rezim
Presiden Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir berulang kali mengancam akan mengambil tindakan militer. Pada Jumat lalu, Trump bahkan menyatakan pergantian rezim “akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi” di Iran.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
“Saya pikir mereka (negosiasi) akan berhasil. Jika tidak, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran,” tegas Trump. Saat ditanya mengenai pergerakan kapal induk ke wilayah tersebut, ia menambahkan, “Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya.”
Namun, di internal pemerintahan AS sendiri muncul kekhawatiran mengenai kekosongan kekuasaan jika rezim Teheran runtuh. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengakui ketidakpastian tersebut. “Tidak ada yang tahu siapa yang akan mengambil alih jika rezim itu jatuh,” ujar Rubio dalam dengar pendapat di Kongres.
Tantangan di Meja Perundingan
Perundingan di Swiss ini diperkirakan akan dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner dari pihak AS, sementara Iran diwakili oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Poin krusial yang menjadi penghambat adalah tuntutan Trump agar Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium tanpa pengecualian.
Marco Rubio bersikap skeptis terhadap peluang kesepakatan mengingat latar belakang ideologis kepemimpinan Iran. “Iran pada akhirnya diperintah oleh ulama Syiah, ulama Syiah radikal. Orang-orang ini membuat keputusan kebijakan atas dasar teologi murni. Jadi, sulit untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” kata Rubio dalam konferensi pers di Budapest, Senin.
Penolakan dari Sekutu Regional
