Wawancara dengan Media Inggris, Wakil Menteri Luar Negeri Iran: Kemungkinan Perang Lain Amerika Serikat

Majid Takht-Ravanchi
Majid Takht-Ravanchi
0 Komentar

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan bahwa Trump “menempatkan semua opsi di atas meja terkait Iran,” dan keputusan akan dibuat berdasarkan kepentingan keamanan nasional.

Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk keperluan sipil. Pejabat AS menyebut penguatan militer ini dimaksudkan untuk memastikan kesiapsiagaan dan mencegah balasan jika upaya diplomasi gagal dilakukan.

Saat ditanya mengenai negosiasi dengan Iran, Trump mengatakan dia berpikir bahwa negosiasi tersebut akan “berhasil.”

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

“Dan jika tidak, itu akan menjadi hari yang buruk bagi Iran — sangat buruk,” ucapnya.

AS dan Iran mengadakan pembicaraan tidak langsung di ibu kota Muscat pada 6 Februari dengan mediasi Oman untuk membahas program nuklir Teheran.

Pertemuan tersebut menandai berakhirnya penangguhan selama sekitar delapan bulan setelah AS melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran di tengah eskalasi konflik Iran-Israel pada Juni 2025.

Di tengah negosiasi tersebut, AS secara signifikan meningkatkan kehadiran militernya di kawasan itu. Trump juga memperingatkan Iran bahwa negara itu harus mencapai kesepakatan.

Pengayaan uranium tetap menjadi titik utama perselisihan. AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan memindahkan uranium yang diperkaya tingkat tinggi ke luar negeri. Tuntutan tersebut ditolak dengan tegas oleh Teheran.

Washington juga berupaya memasukkan program rudal Iran serta dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan ke dalam negosiasi, tetapi Teheran berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan merundingkan isu di luar program nuklirnya.

0 Komentar