Shahed-136 mengilustrasikan logika baru dalam peperangan modern. Desainnya sengaja menghindari kerumitan pesawat siluman yang mahal, dan lebih memilih filosofi “kecukupan”: mesin berbiaya rendah, navigasi berbasis GPS, dan muatan hulu ledak yang signifikan. Shahed-136 bahkan berfungsi sebagai rudal jelajah murah yang dirancang untuk produksi massal.
Kesederhanaan ini justru menjadi keunggulan operasionalnya. Meluncurkan kawanan (swarm) puluhan atau ratusan Shahed menghadirkan dilema taktis dan ekonomi bagi lawan. Menetralisir setiap unit dengan rudal permukaan-ke-udara yang canggih bisa memakan biaya berkali-kali lipat lebih mahal daripada harga drone itu sendiri, yang pada akhirnya menguras finansial dan logistik pihak musuh.
Amerika Serikat dan sekutunya sejauh ini sebagian besar bersifat reaktif dan militeristik. Namun, langkah-langkah tersebut gagal menyentuh akar masalah. Program drone Iran bukanlah penyebab, melainkan konsekuensi dari kebijakan tekanan jangka panjang yang justru memperdalam pencarian otonomi strategis Teheran.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Strategi “tekanan maksimum” barat terbukti kontraproduktif, karena justru mempercepat kemampuan yang ingin dicegah oleh Barat. Tantangan nyata bagi Barat bukanlah sekadar bagaimana menembak jatuh drone Shahed, tetapi bagaimana menghadapi aktor yang telah belajar mengubah kesulitan menjadi pengaruh.
Melalui kegigihan dan pengembangan teknologi, Iran telah mengukuhkan dirinya sebagai pemain yang tak terelakkan dalam membentuk tatanan keamanan regional baru. Ini menandai berakhirnya monopoli Barat atas teknologi pertahanan canggih dan memberikan sinyal lahirnya lanskap dunia yang lebih jamak dan kompleks.
Pada akhirnya, bagi Teheran, kedaulatan teknologi bukanlah sebuah kemewahan—melainkan syarat mutlak bagi kelangsungan hidup politik dan strategis di abad ke-21.
Newsweek melaporkan, Iran kembali menunjukkan lompatan signifikan dalam kapabilitas militernya dengan meluncurkan armada pesawat nirawak (drone) tempur terbaru yang memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal (Vertical Take-off and Landing/VTOL). Langkah ini menjadi sinyal penguatan pertahanan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS).
Laporan media pemerintah Iran menyebutkan bahwa pengembangan teknologi ini merupakan bagian dari ambisi Teheran untuk mencapai kemandirian militer, meskipun berada di bawah tekanan sanksi internasional terkait program nuklir dan dinamika geopolitik regional.
