TAWARAN Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohamad Boroujerdi untuk mengekspor teknologi baru Iran ke Nusantara, salah satunya drone, bukan tanpa alasan. Iran telah memperlihatkan kepada dunia bagaimana kecanggihan pesawat nirawak mereka saat berperang melawan Amerika Serikat-Israel pada Juni 2025 lalu.
Dilansir dari Teheran Times, Iran telah menjadikan pesawat nirawak atau drone sebagai pilar kedaulatannya—sebuah instrumen yang memadukan inovasi, resiliensi, dan ambisi politik.
Lebih dari sekadar perangkat militer, Unmanned Aerial Vehicles(UAV) menyimbolkan jawaban Teheran terhadap sanksi dan tekanan eksternal selama puluhan tahun. Di tengah isolasi, Teheran memilih bertaruh pada kemandirian dan berhasil mengubah keterbatasan menjadi keunggulan strategis.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Program drone mereka bukan sekadar kemajuan teknis, melainkan penegasan kemerdekaan di tengah sistem internasional yang sedang mengalami fragmentasi.
Selama bertahun-tahun, narasi Washington dan dunia barat lainnya kerap menggambarkan Iran sebagai negara terisolasi dan tertinggal secara teknologi. Meski demikian, pandangan tersebut mengabaikan satu realitas: tekanan yang berkelanjutan tidak hanya menghukum, tetapi menguatkan. Dalam kasus Iran, sanksi tidak menghancurkan kapasitas teknologi mereka; sanksi justru mengubahnya menjadi kekuatan riset dan teknologi.
Tertutupnya akses Iran ke pasar pertahanan global membuat institusi pertahanan negeri para mullah tersebut dipaksa untuk memperkuat industri dalam negeri. Opsi tersebut bukan sekadar pilihan politik, melainkan masalah kelangsungan hidup strategis.
Kemandirian teknologi menjadi prinsip panduan, melahirkan industri drone domestik yang adaptif, efisien, dan mampu menghasilkan sistem fungsional dengan biaya rendah namun memiliki efektivitas operasional tinggi.
Teheran Times menulis, Drone Shahed Family, yang dipimpin oleh Shahed-136 yang kini tersohor, merupakan pengejawantahan filosofi ini: teknologi yang memadai, produksi massal, dan ketahanan industri. Di dunia yang penuh dengan asimetri global, Iran berhasil mengubah kelangkaan menjadi strategi.
Peran drone Iran tidak dapat dilepaskan dari papan catur geopolitik kawasan. Dikelilingi oleh pangkalan militer Amerika Serikat dan menghadapi rival regional yang memiliki akses istimewa ke teknologi Barat, Iran mengartikulasikan doktrin penangkalan (deterrence) melalui perang asimetris.
Sistem ini memungkinkan Iran untuk menjalankan apa yang disebut para ahli sebagai “kekuatan penolakan” (denial power). Drone berbiaya rendah dapat mengancam infrastruktur kritis atau kapal komersial, sehingga mengubah kalkulasi strategis kekuatan global. Sebuah amunisi yang hanya berharga beberapa ribu dolar dapat merusak kapal perang bernilai miliaran dolar, menggeser keseimbangan kekuatan dengan biaya minimal.
