Dia melanjutkan bahwa Witkoff dan Kushner memberi tahu Presiden AS bahwa mencapai kesepakatan yang baik dengan Teheran sulit, jika bukan mustahil, mengingat konteks historisnya, tetapi mereka juga mengatakan Iran sejauh ini mengatakan semua hal yang benar.
Pejabat itu menjelaskan bahwa Kushner dan Witkoff menegaskan kepada Trump bahwa mereka akan melanjutkan negosiasi dengan tetap mempertahankan posisi yang tegas.
Jika Iran menyetujui kesepakatan yang mereka anggap memuaskan, mereka akan menunjukkannya kepada Trump untuk memutuskan apakah dia ingin melanjutkan kesepakatan tersebut.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Pengaturan sedang dilakukan untuk mengadakan pembicaraan langsung antara Amerika Serikat dan Iran di kota Jenewa, Swiss, pada Selasa mendatang dengan mediasi Oman, untuk membahas masalah nuklir dan upaya-upaya untuk meredakan ketegangan.
Pada 6 Februari lalu, Oman menjadi tuan rumah negosiasi tidak langsung antara Washington dan Teheran, dan pada malam hari yang sama, Trump mengumumkan akan mengadakan negosiasi baru pada awal pekan depan, tanpa menentukan tanggal pastinya.
Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, menuduh Iran berusaha memproduksi senjata nuklir, sementara Iran mengatakan programnya dirancang untuk tujuan damai, termasuk pembangkit listrik.
Teheran menganggap Washington dan Tel Aviv menciptakan alasan untuk melakukan intervensi militer, dan mengancam akan membalas setiap serangan, serta bersikeras agar sanksi ekonomi Barat yang dijatuhkan terhadapnya dicabut sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya.
Dalam langkah dramatis yang mencerminkan puncak kekhawatiran Israel terhadap jalannya negosiasi antara Washington dan Teheran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan bertolak ke Washington pada Rabu (10/2/2026) dalam kunjungan darurat untuk bertemu dengan Presiden AS Donald Trump.
Kunjungan ini digambarkan sebagai upaya preventif untuk membentuk kebijakan AS terhadap Teheran, menurut surat kabar Israel. Aljazeera, dikutip Selasa (10/2/2026), melaporkan dengan merujuk sejumlah sumber Israel.
Kunjungan ini terjadi pada saat yang sangat sensitif, di mana menurut surat kabar Yisrael Hayom, ada perpecahan mendasar di dalam pemerintahan AS mengenai jalur diplomatik dengan Iran.
Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalPrabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti Kena
Sementara lembaga keamanan Israel meningkatkan retorikanya dengan memperingatkan adanya ancaman eksistensial yang tidak dapat ditawar-tawar.
