KANSELIR Jerman, Friedrich Merz, memberikan peringatan keras dalam pembukaan Konferensi Keamanan Muenchen tahunan. Di hadapan sekitar 50 pemimpin dunia, Merz menyatakan tatanan dunia berbasis aturan yang selama ini menjaga stabilitas global kini telah runtuh.
Dalam pidatonya, Merz menekankan kebebasan Eropa tidak lagi terjamin di tengah politik kekuatan besar. Ia menyerukan agar warga Eropa bersiap menghadapi “pengorbanan” demi mempertahankan kedaulatan mereka.
“Saya khawatir kita harus menyatakannya lebih blak-blakan: tatanan ini, betapapun tidak sempurnanya di masa terbaiknya, tidak lagi eksis dalam bentuk tersebut,” ujar Merz.
Keretakan Hubungan Transatlantik
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Pernyataan Merz muncul di tengah ketegangan hebat antara Eropa dan Amerika Serikat. Isu utama yang membayangi konferensi tahun ini adalah ambisi Presiden AS Donald Trump untuk menganeksasi Greenland dari Denmark, serta kebijakan tarif impor yang menyasar negara-negara Eropa.
Merz mengakui adanya jurang pemisah yang dalam dengan sekutu tradisional mereka tersebut. Ia merujuk pada pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance tahun lalu yang secara terbuka menyerang kebijakan Eropa terkait kebebasan berpidato dan imigrasi.
“Dia benar. Perang budaya dari gerakan MAGA [Make America Great Again] bukanlah milik kita. Kebebasan berbicara berakhir di sini jika ucapan tersebut bertentangan dengan martabat manusia dan konstitusi. Kami tidak percaya pada tarif dan proteksionisme, melainkan pada perdagangan bebas,” tegas Merz.
Meski demikian, Merz tidak ingin memutus hubungan sepenuhnya. Ia menyerukan upaya untuk “memperbaiki dan menghidupkan kembali kepercayaan transatlantik.”
Ambisi Nuklir Eropa dan Tantangan Geopolitik
Sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian komitmen AS di NATO, Merz mengungkapkan adanya “pembicaraan rahasia” dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Diskusi tersebut membahas pembentukan kekuatan penangkal nuklir gabungan Eropa, mengingat selama ini Eropa sangat bergantung pada payung nuklir AS.
Presiden Macron, yang juga hadir dalam konferensi tersebut, mempertegas seruannya agar Eropa bertransformasi menjadi kekuatan geopolitik yang mandiri. Ia mendesak percepatan persenjataan kembali Eropa menyusul invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022.
