TIGA toko Tiffany & Co. mendadak berhenti beroperasi setelah petugas Bea Cukai Jakarta mensegelnya karena diduga menjual barang yang tidak terdaftar resmi. Penertiban tersebut tentu mengejutkan mengingat citranya sebagai sebuah brand perhiasan yang tersohor dan ikonis di dunia.
Nama Tiffany & Co. sudah lama identik dengan kemewahan, cincin tunangan impian, dan kotak biru ikonis yang menjadi simbol cinta bagi banyak pasangan di dunia.
Sejarahnya dapat ditarik hingga 1837 ketika Charles Lewis Tiffany dan John B. Young, dua rekan bisnis yang juga teman semasa sekolah, mendirikan sebuah toko. Awalnya mereka tidak menjual perhiasan, melainkan barang premium dalam bentuk alat tulis dan aksesori.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Kala itu, mereka menamai perusahaannya Tiffany and Young. Charles kemudian menikahi saudari John. Seiring bisnisnya yang berkembang, ia akhirnya membeli perusahaan tersebut dan mengganti namanya menjadi Tiffany & Co.
Singkat cerita, seiring meningkatnya minat pasar terhadap perhiasan berlian, Charles Tiffany melihat peluang besar dan bermitra dengan Patek Philippe, pembuat jam tangan mewah asal Swiss, setelah membuka toko pertama Tiffany & Co. di Paris, Prancis, pada 1850.
Langkah ini menjadi titik balik yang mengangkat nama Tiffany sebagai jeweler elite. Charles Tiffany bahkan dijuluki “King of Diamonds” karena kepiawaiannya mendapatkan batu berlian berkualitas terbaik, termasuk membeli berlian dari bangsawan Eropa.
Salah satu kontribusi terbesar Tiffany & Co. terhadap dunia perhiasan adalah lahirnya Tiffany Setting pada 1886. Desain cincin dengan enam prong (cakar) yang mengangkat berlian ini memungkinkan cahaya masuk dari berbagai sisi, membuat batu tampak lebih berkilau. Konsep ini kemudian menjadi standar global cincin tunangan hingga sekarang.
Tak berlebihan jika banyak orang menyebut Tiffany sebagai pencipta “template” cincin lamaran modern. Popularitas Tiffany makin meluas bukan hanya karena kualitas produknya, tetapi juga karena kekuatan branding.
Kotak Tiffany Blue Box menjadi simbol prestise yang langsung dikenali. Warna birunya bahkan didaftarkan sebagai warna resmi brand.
Nama Tiffany juga melejit lewat film klasik Breakfast at Tiffany’s (1961) yang dibintangi Audrey Hepburn. Adegan sarapan di depan butik Tiffany Fifth Avenue menjadi salah satu momen paling ikonis dalam sejarah film dan memperkuat citra glamor brand ini.
