Sementara itu, pelaku penembakan tersebut dilaporkan memiliki riwayat penyakit mental dan pengguna narkoba. Riwayat medisnya menunjukkan ia pernah dirawat di rumah sakit jiwa pada Desember 2025.
Sementara pihak polisi menyelidiki motif serangan tersebut, SMA Phatong Prathan Khiriwat berduka. Melalui akun Facebook resmi sekolah, mereka menulis, “Meskipun kami telah kehilanganmu, kenangan dan kebaikan yang kau tinggalkan akan selalu tetap di hati kami.”
Thailand merupakan negara dengan kasus penembakan yang tinggi di kawasan Asia Tenggara. Baru Juli 2025 lalu seorang pria melepaskan tembakan di sebuah pasar di Bangkok, menewaskan lima petugas keamanan.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Pada 2022 lalu, seorang mantan petugas polisi menembak secara membabi buta di pusat penitipan anak di Provinsi Nong Bua Lamphu. Sebanyak 37 orang tewas dalam insiden penembakan terburuk dalam sejarah Thailand itu, 20 di antaranya adalah anak-anak.
Pengendalian senjata yang lebih ketat kini jadi isu yang terus digaungkan di Thailand. Diperkirakan, ada sekitar 10 juta senjata api yang beredar di sana, atau satu senjata untuk setiap tujuh orang.
