Apa Sebab dan Bagaimana Duduk Perkara Perang SEAblings vs KNetz: Dari Konser DAY6 hingga Isu Rasisme

Tangkapan layar X
Tangkapan layar X
0 Komentar

DALAM beberapa hari terakhir, perang kata-kata antara netizen Asia Tenggara “SEAblings” dan netizen Korea Selatan “KNetz” terus muncul di lini masa media sosial. Dari adu argumen, perdebatan ini meluas jadi ujaran rasisme. Namun, apa penyebab dan bagaimana duduk perkaranya?

Perang kata-kata ini semula merupakan bagian dari polemik para penggemar K-Pop, budaya populer Korea Selatan (Korsel) yang selama ini dikenal memiliki dunianya sendiri. Namun, hanya dalam rentang waktu beberapa hari, persoalan ini meluas dengan pesat.

Kini, persoalan yang semula terbatas pada para penggemar K-Pop telah meluas jadi persoalan publik awam. Banyak warganet yang tak terkait dengan K-Pop ikut berkomentar dan terlibat dalam perang cemoohan antara dua kubu.

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

Seturut CNA, duduk perkara perang kata-kata yang berujung pada ujaran rasisme ini bermula dari konser band K-Pop, Day6, di Malaysia pada 31 Januari 2026 lalu. Semula, penyelenggaraan konser itu dianggap sukses.

Akan tetapi, pasca-konser sejumlah penonton asal Malaysia melampiaskan kekecewaan di media sosial. Mereka mengaku telah terganggu dengan keberadaan fansite Korea karena menggunakan kamera dan lensa profesional berukuran besar selama konser yang dilarang penggunaannya.

Penonton asal Malaysia itu juga mengunggah video yang memperlihatkan aksi fansite Korea. Lensa kamera itu tampak sangat dekat dengan kepala penonton asal Malaysia.

Besarnya lensa kamera disebut sangat mengganggu penonton lainnya. Ruang gerak mereka jadi sangat terbatas ketika menonton aksi panggung Day6.

Fansite merupakan istilah fandom K-Pop untuk merujuk para penggemar yang berdedikasi mendokumentasikan penampilan idola mereka dalam acara publik. Ciri khas mereka adalah penggunaan kamera profesional untuk menjepret para idola, kemudian mengunggahnya di media sosial.

Para fansite ini tak secara resmi terafiliasi dengan idola maupun manajemen yang menaunginya. Hanya saja, foto-foto mereka telah digunakan para penggemar K-Pop secara luas. Sejumlah idola bahkan memuji hasil jepretan fansite.

Dalam konser Day6 di Malaysia, panitia acara telah melarang penggunaan kamera profesional selama jalannya pergelaran musik. Hal ini membuat penonton asal Malaysia mengecam tindakan fansite asal Korsel tersebut.

0 Komentar