POLITIKUS Heru Subagia menyoroti pidato Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) dalam acara Rakernas PSI di Makassar, 28–31 Januari 2026.
Heru menilai pidato Jokowi yang mengatakan ingin bekerja mati-matian untuk PSI adalah wajar, karena saat ini tidak ada pilihan lain untuk masuk dalam partai politik yang sudah ada.
“Mau tidak mau ya harus memilih partai yang sekiranya menjadi simbol dirinya, simbol politiknya, dan simbol dinastinya. Dalam hal ini publik maupun kacamata politik mengiyakan kalau Jokowi adalah PSI, PSI adalah Jokowi,” ungkapnya, Kamis (12/2)
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Menurutnya, ini adalah simbol mendasar dan esensial bahwa cara penyampaian politik secara total ketika Rakernas PSI di Makassar membuktikan bahwa Jokowi sangat serius untuk membesarkan PSI. Harapan-harapan itu, tentunya sudah diminta secara utuh dan menyeluruh entitas PSI.
Heru menekankan baik ketua umumnya yang notabene adalah anaknya sendiri maupun stakeholder lainnya, PSI dan Jokowi menjadi kesatuan yang utuh, yang tidak bisa dipisahkan.
“Totalitas Jokowi ini simbol keseriusan Jokowi menjadi patron politik sekaligus Jokowi dengan entitas dirinya menyatakan Jokowi adalah PSI sebagai pelabuhan politik, baik karir untuk kedepannya saat ini, dan yang pasti untuk dinasti Jokowi itu sendiri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Heru juga merespons pidato Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep yang membalas tekad bapaknya, Joko Widodo, yang ingin mati-matian demi PSI. Kaesang menyatakan dirinya akan memeras semua darah dalam tubuhnya untuk memenangkan PSI di Pemilu 2029.
“Saya pikir Jokowi dan Kaesang ini kan identik ya, karena punya kesamaan DNA. Kaesang sendiri diperebutkan PSI karena memang PSI tahu ketika harus merebutkan Jokowi. Jokowi pada waktu itu masih banyak kaki-kakinya di partai-partai seperti Golkar maupun di partai-partai yang menanam saham barangkali di Partai Amanat Nasional juga, sehingga otomatis Kaesang menjadi bidikan. Sekali lagi entitas PSI memang menginginkan sekali DNA Jokowi itu ada di PSI,” papar Heru.
Ia menilai hal itu itu sudah menjadi kontrapolitik kesempatan politik keseluruhan PSI bahwa akhirnya Kaesang menjadi ketua umum.
