GHISLAINE Maxwell, mantan kekasih dan kaki tangan pelaku kejahatan seks Jeffrey Epstein, menolak untuk menjawab pertanyaan para anggota parlemen Amerika Serikat (AS) dalam sesi tanya-jawab pada Senin (9/2) waktu setempat. Maxwell dimintai keterangan via tautan video dari penjara tempatnya ditahan.
Komite Pengawasan DPR AS, yang kini dikuasai Partai Republik, sedang menyelidiki hubungan antara Epstein dengan tokoh-tokoh berpengaruh dan bagaimana informasi tentang tindak kejahatannya ditangani. Maxwell dipanggil untuk bersaksi setelah kumpulan dokumen baru terkait kasus Epstein dirilis 30 Januari lalu.
Maxwell yang sedang menjalani masa hukuman 20 tahun penjara atas pidana memperdagangkan anak-anak perempuan kepada Epstein ini, seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (10/2/2026), menggunakan haknya untuk tidak menjawab, berdasarkan Amandemen Kelima Konstitusi AS.
Baca Juga:Penemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada TerbelahBareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar Modal
Amandemen konstitusi itu melindungi individu dari pengakuan yang memberatkan diri sendiri. Maxwell pun menolak untuk menjawab pertanyaan apa pun dari para anggota Komite Pengawasan DPR AS.
“Nona Maxwell siap untuk berbicara sepenuhnya dan sejujurnya jika diberikan pengampunan oleh Presiden (Donald) Trump,” kata pengacaranya, David Markus, dalam sebuah pernyataan.
“Hanya dia yang dapat memberikan penjelasan lengkap (mengenai tindakan Epstein),” sebut Markus dalam pernyataannya.
“Beberapa orang mungkin tidak menyukai apa yang mereka dengar, tetapi kebenaran itu penting. Misalnya, baik Presiden Trump maupun Presiden (Bill) Clinton tidak bersalah atas pelanggaran apa pun. Hanya Nona Maxwell yang dapat menjelaskan mengapa, dan publik berhak atas penjelasan itu,” ucapnya.
Departemen Kehakiman AS merilis jutaan halaman dokumen terkait penyelidikan Epstein, yang mencakup 38.000 kali penyebutan nama Trump dalam lebih dari 5.300 berkas, menurut peninjauan materi oleh New York Times.
Partai Demokrat menuduh Maxwell memanfaatkan kesaksiannya sebagai alat tawar-menawar untuk mendapatkan pengampunan dari Trump. Ketua Komite Pengawasan DPR AS, James Comer, dari Partai Republik mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya tidak mempercayai jika Maxwell pantas mendapatkan pengampunan.
“Sayangnya, hari ini dia memiliki kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dimiliki setiap warga Amerika, pertanyaan yang sangat penting dalam penyelidikan ini, dan dia memilih untuk menggunakan haknya berdasarkan Amandemen Kelima,” kata Comer.
