Maka, diciptakanlah musuh bersama. Nicolas Maduro, yang sejatinya bukan ancaman langsung bagi AS, diculik dengan dalih narkoterorisme. Isu Greenland digulirkan untuk memancing sentimen nasionalisme. Ketika itu meredup, Iran diprovokasi hingga ambang perang.
Taktik ini persis meniru langkah Bill Clinton yang membombardir Afghanistan dan Sudan pada 1998 demi mengalihkan perhatian dari skandal Monica Lewinsky. Trump sedang memainkan kartu lama: menciptakan krisis luar negeri demi menyelamatkan muka di dalam negeri.
Namun, pertaruhannya kali ini jauh lebih besar. Ekonomi AS yang melambat dan protes domestik akibat brutalnya aparat imigrasi membuat posisi Trump kian terjepit.
Baca Juga:Penemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada TerbelahBareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar Modal
Hantu Epstein tidak akan hilang hanya dengan memicu perang; ia akan terus menjadi amunisi bagi lawan politik Trump untuk menggoyang kursi kepresidenan lewat jalur konstitusional maupun opini publik.
