JEFFREY Epstein boleh saja sudah tewas bunuh diri di penjara pada 2019, namun ‘hantunya’ kini kembali gentayangan dan mencekik leher kekuasaan di Washington DC. Bagi Presiden Donald Trump, terbukanya kotak pandora arsip kejahatan seksual Epstein pada Januari tahun ini bukan sekadar skandal moral, melainkan ancaman politik eksistensial yang harus diredam dengan segala cara.
Publik dunia belakangan dibuat terperangah oleh serangkaian manuver agresif Trump: mulai dari aksi nekat menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro, memprovokasi Iran di Teluk Persia, hingga wacana aneksasi Greenland.
Bagi mata awam, ini tampak sebagai ketegasan AS. Namun, bagi pengamat politik kawakan, ada benang merah yang rapi antara ‘gaduh’ global ini dengan terbukanya dokumen Epstein. Istilah Sydney Morning Herald sangat tepat menggambarkan situasi ini: ‘Wag the Dog’. Sebuah skenario pengalihan isu klasik layaknya film tahun 1997, di mana perang diciptakan untuk menutupi skandal seks presiden.
Bola Liar Dokumen Merah
Baca Juga:Penemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada TerbelahBareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar Modal
Janji kampanye Trump pada 2024 untuk membuka arsip Epstein tak kunjung terealisasi hingga setahun menjabat. Bola liar justru bergulir ketika Wall Street Journalpada Juli 2025 membocorkan album ulang tahun ke-50 Epstein tahun 2003, di mana Trump terekam sebagai salah satu tamu kehormatan.
Gugatan Trump terhadap Wall Street Journal justru menjadi blunder. Tekanan politik, termasuk dari internal Partai Republik, memaksanya menandatangani UU Transparansi Arsip Epstein pada November 2025. Hasilnya? Januari 2026, Kejaksaan Agung AS merilis dokumen yang menyeret banyak nama besar, termasuk indikasi kedekatan Trump dengan sang predator seks.
Ini adalah pukulan telak. Di Inggris, Perdana Menteri (PM) Keir Starmer bahkan ikut terguncang setelah orang dekatnya, Peter Mandelson, terseret arus skandal ini dan harus mundur. Tokoh lain seperti Bill Clinton dan Bill Gates telah meminta maaf, namun Trump memilih jalan lain: pengalihan isu besar-besaran.
Maduro dan Iran sebagai ‘Tumbal’ Politik
Trump paham betul, jejak digital pertemanannya dengan Epstein adalah ‘kartu mati’ dalam sistem moralitas publik Amerika. Di tengah ancaman Pemilu Sela (Midterm) pada November 2026 mendatang, Trump tidak bisa membiarkan narasi Epstein mendominasi ruang publik. Jika Demokrat menang dan menguasai Kongres, hantu pemakzulan (impeachment) akan kembali nyata di depan mata.
