Menhan mengingatkan bahwa ancaman modern tidak lagi terbatas pada perang fisik konvensional, melainkan juga upaya pihak asing yang mengincar kekayaan alam Indonesia melalui berbagai cara, termasuk investasi predator, spionase ekonomi, dan konflik hibrida.
Oleh karena itu, kesiapan TNI dalam Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP) menjadi mutlak. OMP menyangkut pertahanan fisik terhadap agresi militer, sementara OMSP mencakup tugas-tugas seperti bantuan kemanusiaan, pengamanan wilayah perbatasan, penanggulangan bencana, hingga operasi kontra-terorisme dan perlindungan sumber daya alam.
Menutup arahannya, Sjafrie mengapresiasi soliditas yang telah terbangun di tubuh TNI saat ini. “Saya melihat bahwa TNI sekarang kompak, solid. Baik di antara satuan-satuan yang ada di lapangan sampai ke tingkat para kepala staf angkatan dan sampai kepada tingkat Panglima TNI. Tentunya ini sangat kita perlukan agar supaya tugas dan tanggung jawab negara bisa menjadi tantangan yang perlu dijawab oleh TNI,” katanya.
Baca Juga:Penemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada TerbelahBareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar Modal
Rapim TNI 2026 dihadiri Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, para kepala staf angkatan, dan sekitar 500 perwira tinggi, menandakan komitmen bersama untuk mewujudkan TNI yang adaptif, solid, dan siap menjawab tantangan abad ke-21 demi menjaga kedaulatan NKRI.
Slogan “TNI Manunggal Membangun Desa” bukan sekadar kata-kata, melainkan bukti nyata yang tecapai melalui keringat prajurit di ujung barat hingga ujung timur nusantara. Sepanjang pekan ini, TNI menunjukkan komitmennya sebagai pelindung sekaligus penggerak kesejahteraan masyarakat, mulai dari pembangunan infrastruktur vital di pedalaman Aceh hingga pelayanan kesehatan di pegunungan Papua.
Menyambung Asa di Pedalaman Linge
Di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, prajurit TNI tengah berpacu dengan waktu membangun jembatan gantung sepanjang 100 meter di Desa Kalaili. Jembatan ini menjadi “napas baru” bagi warga pascabencana yang selama ini terisolasi dari akses transportasi utama.
Komandan Rayon Militer (Danramil) 05/Linge, Lettu Inf Muklis, melaporkan bahwa progres pembangunan kini telah mencapai 45 persen. Pekerjaan krusial seperti struktur abutmen dan pilar penopang telah rampung berdiri. Meski menghadapi tantangan berat berupa jarak langsir material yang sangat jauh di medan terjal, semangat gotong royong personel dari Yon TP 854/DK dan Yonif 114/Satria Musara tidak surut.
