Petunjuk paling jujur justru datang dari tulisannya sendiri.
Dalam pesan terakhir yang dikutip sejumlah media internasional, Ruslana menulis kalimat yang kini terasa memilukan: “Saya telah hilang. Apakah saya akan bisa menemukan diri saya sendiri?” Kalimat lain menyiratkan rasa hancur yang mendalam—tentang kehilangan, kebingungan, dan rasa tidak dicintai. Bukan teriakan, tapi bisikan lelah dari seseorang yang merasa tercerabut dari jati dirinya.
Beberapa laporan menyebut Ruslana sempat menjalani perawatan psikologis dan mengikuti berbagai pelatihan pengembangan diri. Ada pula spekulasi soal gangguan bipolar, meski hal itu tidak pernah dikonfirmasi secara resmi. Yang jelas, beban mental yang ia tanggung jauh lebih berat dari senyum yang ia tunjukkan di depan kamera.
Kasus Ruslana juga kerap dikaitkan dengan model lain, Anouska De Georgiou, yang secara terbuka bersaksi sebagai korban Epstein dan Ghislaine Maxwell. Catatan penerbangan dan kesaksian pengadilan menunjukkan pola yang sama: model muda, dijanjikan kesempatan, lalu terseret dalam lingkaran elit yang predatoris.
Baca Juga:Penemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada TerbelahBareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar Modal
Dokumen yang dirilis Januari 2026 kembali menyalakan diskusi lama: berapa banyak korban yang tak pernah bersuara? Berapa banyak kisah yang terpotong sebelum sempat utuh?
Ruslana Korshunova bukan sekadar angka dalam arsip Epstein. Ia adalah manusia, anak muda, seorang perempuan yang bermimpi besar di dunia yang keras. Kisahnya menjadi pengingat pahit bahwa industri glamor tak selalu ramah, dan kekuasaan yang tak diawasi bisa menghancurkan siapa saja—diam-diam, perlahan, mematikan.
Hari ini nama Ruslana Korshunova kembali disebut. Bukan untuk sensasi, tapi untuk mengingat. Bahwa di balik setiap dokumen hukum, ada nyawa. Di balik setiap foto cantik, ada jiwa yang bisa retak. Dan bahwa perlindungan terhadap anak muda, khususnya di industri hiburan dan mode, bukan pilihan, melainkan kewajiban.
