Siaga penuh
Iran menegaskan dalam posisi siap siaga penuh untuk memberikan respons cepat, menentukan, dan akan disesali oleh musuh yang melancarkan ancaman, serangan, atau miskalkulasi. Dalam pesan yang dikeluarkan pada Sabtu (7/12/2026), Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi menegaskan, upaya perang terhadap Iran akan berakhir pada kegagalan.
Mousavi merujuk pada kondisi sensitif dan kompleks di dalam negeri dan luar negeri belakangan ini, khususnya pascaperang 12 hari melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) pada Juni 2025. Mousavi mengatakan, semakin membuktikan peran strategis dari Angkatan Udara Iran sebagai alat penangkal (deterrence).
Dia mengatakan, bahwa Angkatan Udara Iran saat ini berada dalam kesiapsiagaan tinggi dan koordinasi penuh dengan matra lainnya di Angkatan Bersenjata Iran. Militer Iran, kata Mousavi, seiap untuk berkonfrontasi terhadap semua bentuk ancaman dan serangan lewat sebuah respons tegas dan kuat.
Baca Juga:Penemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada TerbelahBareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar Modal
Menurut Mousavi, musuh-musuh Iran sadar bahwa petualangan perang mereka terhadap Republik Islam tidak hanya akan berakhir pada kekalahan namun juga akan memperluas konflik dan krisis di seluruh kawasan, dan berakibat pada kerusakan dengan ongkos perbaikan yang sangat mahal nantinya. Ia menegaskan, Iran tidak akan pernah memulai sebuah perang, namun tidak akan ragu untuk mempertahankan keamanan nasional, kepentingan vital, dan integritas teritorial.
Pada 1 Februari 2026, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei muncul memberikan pidato kepada publik di Teheran,. Dalam pidatonya itu, Khamenei memperingatkan jika Amerika Serikat memulai perang dengan negaranya, ketegangan berpotensi mengalami eskalasi hingga menjadi konflik di tingkat kawasan.
“AS harus tahu kalau mereka memulai perang, kali ini yang akan terjadi adalah sebuah perang regional,” kata Ali Khamenei, sebagaimana dikutip kantor berita Tasnim.
Khamenei muncul dalam perayaan kembalinya pendiri Republik Islam Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini dari pengasingan di Prancis pada 1979 yang berujung pada revolusi Iran yang menggulingkan Mohammad Reza Shah Pahlavi. Dalam pidatonya, Khamenei mengatakan, AS ingin ‘melahap’ Iran dan kekayaan alam berupa minyak dan gas bumi, sambil menambahkan, apa yang terjadi pada aksi massa antipemerintah sebulan lalu, “sama dengan sebuah kudeta” lantara sejumlah orang serentak menyerang dan merusak gedung pemerintahan, bank, dan masjid.
