Taktik menutup selat ini termasuk menebar ranjau, menyerang kapal-kapal tanker dengan rudal dan drone, dan bisa juga dengan menenggelamkan kapal-kapal untuk memblok jalur perdangangan minyak. Angkatan Laut IRGC telah berlatih taktik ini, menggunakan kapal-kapal kecil bersenjatakan roket dan torpedo, yang didesain untuk membuat kapal besar kewalahan.
Jika Iran menutup Selat Hormuz, diperkirakan harga minyak dunia akan meroket hingga 200 dolar AS per barelnya. Kondisi itu tentunya akan merusak ekonomi dunia hingga menekan AS untuk mundur, menyerah.
Seorang perwakilan dari Ayatollah Ali Khamenei, Hossein Shariatmadari, mengatakan, “Kami bisa menerapkan pembatasan terhadap AS, Prancis dan Jerman di Selat Hormuz dan tidak memperbolehkan mereka bernavigasi di sana.” Kalkulasi Iran, senjata ekonomi ini akan meretakkan koalisi internasional yang mendukung aksi militer AS.
Baca Juga:Penemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada TerbelahBareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar Modal
Aksi kontigensi AS untuk tetap membuat Selat Hormuz beroperasi, termasuk lewat operasi penyapu ranjau, pengawalan terhadap konvoi kapal tanker, dan menyerang instalasi militer di pesisir Iran. Namun demikian, pasar minyak dunia tetap akan terdisrupsi hebat meski Iran hanya mampu menutup sebagian Selat Hormuz.
Iran yakin, taktik menutup Selat Hormuz akan memaksa Washington kembali ke meja perundingan daripada memperlama perang. Meski demikian, taktik ini juga memunculkan risiko bagi Iran yang pendapatan dari ekspor minyaknya juga pasti akan terganggu.
Tahap lima: Permainan akhir
Strategi perang Iran bersandar pada AS dan sekutunya berkesimpulan bahwa harga dari konflik berkepanjangan akan menambah keuntungan. Dengan mengancam jalur suplai energi global, menerapkan serangan berlanjut di beberapa negara dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang signifikan di pihak AS, Iran berharap menciptakan sebuah situasi multifront perang.
Perancana Iran yakin, AS memiliki selera terbatas terhadap perang panjang usai pengalaman di Afghanistan dan Irak. Berperang secara simultan dengan proxy Iran di Lebanon, Yaman, Irak dan kemungkinan Suriah sembari juga mempertahankan negara-negara sekutu di kawasan Teluk dan juga mempertahankan jalur lalu lintas kapal akan sangat menekan sumber daya militer AS.
Iran memandang strategi perang mereka sebagai sebuah pertahanan asimetris. Tidak bisa menang secara militer, tapi mereka percaya itu juga akan membuat kemenangan menjadi sangat mahal bagi Washington untuk dikejar.
