Saat banyak drone atau rudal akan diintersep AS, Iran meyakini sebagian lainnya akan mampu mencapai target yang bisa mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Belum lagi, sekutu Iran di kawasan pastinya juga akan melancarkan serangan secara simultan.
Hizbullah di Lebanon menyatakan bahwa mereka mempertimbangkan ikut terlibat dalam perang jika Iran diserang dan akan meluncurkan roket dan rudal ke Israel untuk memaksa AS dan sekutunya mengalihkan sumber dayanya. Pejuang Houthi di Yaman juga akan secara intensif menyerang kapal-kapal di Laut Merah, Israel, dan pangkalan AS di kawasan. Milisi di Irak yang juga bisa menyerang personel dan fasilitas diplomatik di negara itu.
Asumsi bahwa kelompok-kelompok milisi itu akan segera berkoordinasi melancarkan serangan balasan terhadap AS dan Israel disebut sangat memungkinkan. Terbukanya front-front perang baru akibat keterlibatan para proxy ini akan membatasi kemampuan Washington untuk fokus dalam menyerang Iran.
Tahap tiga: Perang siber
Baca Juga:Penemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada TerbelahBareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar Modal
Iran juga merencanakan melancarkan serangan siber menargetkan apa yang mereka anggap sebagai titik-titik lemah AS yakni, jaringan transportasi, infrastruktur energi, sistem keuangan, dan komunikasi militer. Teheran percaya bahwa operasi siber bisa mendisrupsi logistik AS, membingungkan pusat kontrol dan komando, dan menciptakan kekacauan di negara-engara sekutu yang menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer AS.
Dengan menyerang infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik atau sistem drainase, Iran berharap bisa memberikan tekanan terhadap negara-negara sekutu AS di Timur Tengah untuk akhirnya mengusir angkatan bersenjata AS keluar dari negara mereka. Para peretas Iran sebelumnya telah mendemonstrasikan kemampuan mereka melancarkan serangan siber di kawasan. Pada 2012, virus Shamoon berhasil mendisrupsi 30 ribu komputer di perusahan raksasa minyak milik Arab Saudi, Aramco.
Namun, Pusat Komando Siber AS telah bersiap menghadapi skenario serangan siber dari AS itu. Kemampuan siber AS diketahui masih superior terhadap Iran di mana Pentagon bisa memutus jaringan listrik Iran, mendisrupsi sistem pemandu rudalm dan mengintersep jaringan komunikasi.
Tahap empat: Melumpuhkan perdagangan minyak global
Senjata paling ampuh milik Iran diyakini adalah letak geografisnya. Iran saat ini mengontrol Selat Hormuz, selat di mana 21 juta barel minyak melintas setiap harinya, yang adalah seperlima dari kapasistas perdagangan minyak global. Lebar selat ini hanya 38 kilometer, dan Iran berulang kali menegaskan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menutup Selat Hormuz jika perang pecah.
