Perang Iran vs Amerika Serikat: Ada 5 Tahap Pertempuran dan Disrupsi Ekonomi Global

Ilustrasi: Perang Iran vs Amerika Serikat
Ilustrasi: Perang Iran vs Amerika Serikat
0 Komentar

“Kami siap untuk aksi apapun dari musuh,” kata Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, saat berkunjung ke kota rudal bawah tanah Iran pada Rabu pekan lalu.

“Setelah perang 12 hari, kami mengganti doktrin militer dari defensif ke ofensif dengan mengadopsi sebuah kebijakan perang asimetris dan respons menghancurkan terhadap musuh,” kata Mousavi.

Tahap dua: Iran menyerang balik

Respons Iran atas serangan AS akan dengan segera berkembang melebihi batas wilayah mereka. Dalam beberapa jam setelah diserang, Teheran akan melancarkan serangkaian serangan rudal balistik dan drone ke pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Baca Juga:Penemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada TerbelahBareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar Modal

Target utama termasuk pangkalan Al-Udeid di Qatar, yang selama ini menjadi markas Pusat Komando AS dan menjadi penghubung utama operasi militer AS di kawasan. Pada Juni lalu, Iran berhasil mendaratkan rudal balistik mereka di Al-Udeid sebagai respons atas serangan jet B-2 bomber yang dikirim Trump.

Di Kuwait, pangkalan Ali Al Salem adan Kamp Arifjan, sebuah pusat logistik untuk Angkatan Darat AS, akan diserang oleh Iran. Pangkalan militer AS lain seperti di Uni Emirat Arab (UEA) dan di Suriah di mana sekitar 2.000 prajurit AS berada pastinya juga akan menjadi target.

Juru bicara Angkatan Darat Iran, Amir Akraminia, pernah mengklaim bahwa manargetkan pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah adalah hal “mudah”.

Pada 2020, Iran pernah menghantam pangkalan udara Ain al-Asad di AS sebagai respons atas pembunuhan terhadap Jenderal Qassem Soleimani, yang saat itu mengakibatkan lebih dari 100 tentara AS mengalami cedera otak. Iran bisa menghantam pangkalan itu lagi meski kali ini sudah dikosongkan oleh AS sejak Januari.

Sebuah laporan dikutip Telegaraf menyebutkan, “Iran tidak melihat dirinya sebagai pulau terisolasi dalam perang, tapi lebih merasa sebagai pusat dari sebuah jaringan konfrontasi potensial.”

Strategi serangan balasan Iran mencakup membuat sistem pertahanan AS kewalahan lewat luncuran rudal-rudal secara simultan untuk mengacaukan Patriot and Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang diposisikan AS di beberapa wilayah di Timur Tengah. Persenjataan Iran yang bisa menjalankan tugas itu termasuk drone Shahed-136 dengan hulu ledak seberat 50 kilogram (kg); rudal balistik Kheibar Shekan dengan 750 kg hulu ledak yang bisa bermanuver; rudal balistik Emad dengan hulu ledak dengan berat 750 kg, dan rudal penjelajah Paveh yang memiliki daya jangkauan hingga 1.600 kilometer.

0 Komentar