LAUT Karibia, bagi banyak orang, adalah surga, pelarian dari riuh dunia modern. Namun, bagi Sarah Ransome, setiap percikan air birunya yang jernih itu justru meninggalkan luka permanen.
Tahun 2006, pada usia 22, ia naik pesawat jet menuju Little St. James, sebuah pulau pribadi di Kepulauan Virgin, Amerika Serikat. Ia terbang ke sana mengharapkan pendidikan dan karier cemerlang, yang dijanjikan dermawan.
Sejak di pesawat, ia sudah disuguhi adegan aneh. Pulau itu indah, dengan nyiur melambai dan pasir berkilau. Akan tetapi, keindahan itu hanya topeng.
Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalPrabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti Kena
Saat hari pertama menjejakkan tanah, ia disuruh ke sebuah ruangan oleh Jeffrey Epstein, diminta berbaring di meja pijat, lalu diperkosa. Ia merasa seperti pasien di meja operasi, tubuhnya dibuat tak berdaya, haknya direnggut.
“Dia melakukan hal yang tak boleh dilakukan pria pada wanita,” tuturnya lirih.
Bahkan, Ransome kerap diperdagangkan. Di pulau itu, ia menjadi properti Jeffrey Epstein yang sejak lama menargetkan remaja rentan. Epstein, yang terdaftar sebagai pelaku kejahatan seks sejak 2008, dilaporkan sering membawa gadis-gadis muda, bahkan beberapa masih bawah umur, ke pulau tersebut. Korban lain, Virginia Giuffre dan Chauntae Davies, menggambarkan pulau itu sebagai tempat waktu berhenti, norma sosial tak berlaku.
Pulau itu kemudian dikenal dengan julukan Pulau Pedofil oleh media dan masyarakat setempat.
Di Balik Pulau dan Dinding Vila
Pada akhir 1990-an, Jeffrey Epstein baik secara sosial maupun finansial. Ia sedang mencari simbol kekayaan dan ruang yang bisa membuatnya berkuasa penuh.
Kesempatan datang pada 1998, saat Little St. James, pulau vulkanik seluas sekitar 70–78 hektare di lepas pantai St. Thomas, masuk pasar. Epstein bergerak cepat. Lewat jaringan perusahaan cangkang, ia membelinya seharga 7,95 juta dolar.
Pulau yang tadinya sederhana segera berubah. Kapal tongkang hilir mudik membawa material, alat berat merombak topografi sesuai visinya. Ia menanam pohon palem impor sebagai tirai alami yang menutup pandangan dari laut. Privasinya sangat ketat. Ia rela menghabiskan jutaan dolar demi memastikan kerajaannya tak bisa diintip.
