46 Agen dalam Satu Jaringan
Investigasi yang dilakukan oleh Divisi Kontra-Terorisme Istanbul dan intelijen Turki mengungkapkan bahwa Mossad telah merekrut 46 agen dalam sel ini untuk melakukan kegiatan pengawasan, pelacakan, penyerangan, dan bahkan penculikan terhadap warga Palestina dan warga asing yang tinggal di Turki dengan alasan kemanusiaan.
Skala operasi ini menunjukkan betapa serius Mossad memandang Turki, baik sebagai basis operasi maupun sebagai tempat di mana target-target mereka berkumpul.
Pesan Politik Erdogan
Serangkaian penangkapan ini juga membawa pesan politik yang kuat dari pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Turki, yang telah menjadi kritikus vokal kebijakan Israel terhadap Palestina, menunjukkan bahwa mereka tidak akan mentolerir operasi intelijen asing di wilayah mereka, terlebih yang menargetkan komunitas Palestina yang mencari perlindungan di Turki.
Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalPrabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti Kena
Bagi Mossad, kegagalan membangun markas besar di Turki merupakan pukulan strategis. Turki menawarkan posisi geografis ideal, jembatan antara Eropa dan Timur Tengah, dengan akses ke Asia dan Afrika Utara. Kehilangan kemampuan beroperasi bebas di sana membatasi jangkauan Mossad di kawasan yang sangat penting.
Permainan Intelijen yang Belum Berakhir
Meski berhasil menggagalkan operasi “Monitor” dan menangkap puluhan agen Mossad, perang intelijen antara Turki dan Israel kemungkinan besar belum berakhir. Metode rekrutmen yang canggih, penggunaan perusahaan fiktif, dan infiltrasi rantai pasokan menunjukkan bahwa Mossad akan terus mencari cara baru untuk beroperasi.
Namun, keberhasilan Turki membongkar jaringan yang telah beroperasi selama hampir dua dekade, dari tambang marmer hingga perdagangan drone mematikan, mengirimkan sinyal jelas: Istanbul bukan lagi kota yang aman untuk mata-mata Mossad.
