Operasi Rahasia 'Monitum' Intelijen Turki Bongkar Jaringan Spionase Canggih Markas Besar Mossad

Operasi 'Monitum' Badan Intelijen Nasional Turki (MİT) menahan dua tersangka di Istanbul atas tuduhan spionase
Operasi 'Monitum' Badan Intelijen Nasional Turki (MİT) menahan dua tersangka di Istanbul atas tuduhan spionase atas nama Mossad Israel. Tersangka: Mehmet Budak Derya dan Veysel Kerimoglu. Tuduhan termasuk mengumpulkan dan mengirimkan intelijen, melacak individu Palestina, dan menggunakan kedok bisnis. Penangkapan dilakukan setelah pengawasan yang diperpanjang, dengan intervensi pada Januari 2026.
0 Komentar

46 Agen dalam Satu Jaringan

Investigasi yang dilakukan oleh Divisi Kontra-Terorisme Istanbul dan intelijen Turki mengungkapkan bahwa Mossad telah merekrut 46 agen dalam sel ini untuk melakukan kegiatan pengawasan, pelacakan, penyerangan, dan bahkan penculikan terhadap warga Palestina dan warga asing yang tinggal di Turki dengan alasan kemanusiaan.

Skala operasi ini menunjukkan betapa serius Mossad memandang Turki, baik sebagai basis operasi maupun sebagai tempat di mana target-target mereka berkumpul.

Pesan Politik Erdogan

Serangkaian penangkapan ini juga membawa pesan politik yang kuat dari pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Turki, yang telah menjadi kritikus vokal kebijakan Israel terhadap Palestina, menunjukkan bahwa mereka tidak akan mentolerir operasi intelijen asing di wilayah mereka, terlebih yang menargetkan komunitas Palestina yang mencari perlindungan di Turki.

Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalPrabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti Kena

Bagi Mossad, kegagalan membangun markas besar di Turki merupakan pukulan strategis. Turki menawarkan posisi geografis ideal, jembatan antara Eropa dan Timur Tengah, dengan akses ke Asia dan Afrika Utara. Kehilangan kemampuan beroperasi bebas di sana membatasi jangkauan Mossad di kawasan yang sangat penting.

Permainan Intelijen yang Belum Berakhir

Meski berhasil menggagalkan operasi “Monitor” dan menangkap puluhan agen Mossad, perang intelijen antara Turki dan Israel kemungkinan besar belum berakhir. Metode rekrutmen yang canggih, penggunaan perusahaan fiktif, dan infiltrasi rantai pasokan menunjukkan bahwa Mossad akan terus mencari cara baru untuk beroperasi.

Namun, keberhasilan Turki membongkar jaringan yang telah beroperasi selama hampir dua dekade, dari tambang marmer hingga perdagangan drone mematikan, mengirimkan sinyal jelas: Istanbul bukan lagi kota yang aman untuk mata-mata Mossad.

0 Komentar