Perusahaan ini akan mengelola pembelian, pengemasan, penyimpanan, dan pengiriman produk ke konsumen akhir atas nama Mossad, melalui tiga perusahaan yang beroperasi di Asia. Langkah-langkah lain yang dibahas termasuk membuka rekening bank untuk perusahaan cangkang, membuat situs web, dan akun media sosial.
Dengan kata lain, Mossad berupaya mendirikan organisasi yang berafiliasi dengannya dengan pusat operasi di Turki, sebuah langkah strategis yang akan memberi mereka akses luas ke wilayah Timur Tengah, Eropa, dan Asia. Operasi intelijen Turki berhasil menggagalkan rencana tersebut tepat waktu.
Metode Hizbullah: Pager dan Walkie-Talkie Peledak
Investigasi juga mengungkap kesamaan metode yang digunakan dalam operasi ini dengan serangan Mossad terhadap Hizbullah Lebanon. Dengan menyusup ke perusahaan manufaktur dan pemasok, Mossad berhasil mengirimkan perangkat pager dan komunikasi nirkabel yang di dalamnya ditanami alat penyadap dan bahan peledak.
Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalPrabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti Kena
Serangan ini pada tahun 2024 mengakibatkan pembunuhan dan melukasi ratusan anggota Hizbullah serta elemen Iran yang terkait dengannya. Pola operasi yang sama, infiltrasi rantai pasokan untuk tujuan intelijen dan pembunuhan, terlihat jelas dalam rencana yang digagalkan di Turki.
Gelombang Penangkapan: Turki Bersih-Bersih Jaringan Mossad
Penangkapan Budak Derya dan Karimoglu bukanlah kasus terisolasi. Badan intelijen dan keamanan Turki telah melakukan serangkaian operasi terhadap agen Mossad dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Oktober 2024, pihak berwenang mengumumkan penangkapan Serkan Cicek, seorang warga negara Turki yang nama aslinya adalah Mehmet Fatih Kalash, dalam operasi yang diberi kode nama “Metron”.
Cicek terbukti bekerja untuk Mossad dan terhubung dengan seorang anggota Pusat Operasi Online Israel bernama Faisal Rashid. Ia telah setuju melakukan kegiatan spionase yang menargetkan seorang aktivis Palestina yang menentang praktik Israel di Timur Tengah.
Pada 5 April 2024, delapan orang ditangkap di Istanbul karena mengumpulkan informasi tentang individu dan perusahaan di Turki yang menjadi target Mossad dan mentransfer informasi serta dokumen tersebut kepada badan intelijen Israel.
Operasi terbesar terjadi pada 2 Januari 2024, dalam operasi “Kuburan Mata-Mata”, di mana 34 orang dari berbagai kewarganegaraan Arab ditangkap, termasuk warga Palestina, Suriah, Mesir, Irak, dan Lebanon. Mereka dituduh memata-matai warga asing yang tinggal di Istanbul, khususnya warga Palestina.
