Operasi Rahasia 'Monitum' Intelijen Turki Bongkar Jaringan Spionase Canggih Markas Besar Mossad

Operasi 'Monitum' Badan Intelijen Nasional Turki (MİT) menahan dua tersangka di Istanbul atas tuduhan spionase
Operasi 'Monitum' Badan Intelijen Nasional Turki (MİT) menahan dua tersangka di Istanbul atas tuduhan spionase atas nama Mossad Israel. Tersangka: Mehmet Budak Derya dan Veysel Kerimoglu. Tuduhan termasuk mengumpulkan dan mengirimkan intelijen, melacak individu Palestina, dan menggunakan kedok bisnis. Penangkapan dilakukan setelah pengawasan yang diperpanjang, dengan intervensi pada Januari 2026.
0 Komentar

INTELIJEN Turki menggagalkan upaya Mossad Israel mendirikan markas besar operasi di tanah Turki setelah menangkap dua orang yang telah bekerja untuk badan intelijen Israel selama bertahun-tahun.

Operasi gabungan yang melibatkan Kantor Kejaksaan Umum Istanbul dan departemen kontra-terorisme kota tersebut, diberi kode nama “Monitum”, berhasil mengungkap jaringan spionase canggih yang beroperasi dengan kedok perdagangan internasional.

Dua orang yang ditangkap adalah Mohammed Budak Derya, warga negara Turki yang berprofesi sebagai insinyur pertambangan, dan Faisal Karimoglu, warga Palestina berkewarganegaraan Turki. Keduanya telah berada di bawah pengawasan dinas intelijen Turki dalam jangka waktu lama sebelum akhirnya ditangkap pada Jumat pekan lalu, sebagaimana diberitakan Daily Sabah.

Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalPrabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti Kena

Sumber keamanan Turki mengungkapkan bahwa kedua individu ini telah memberikan informasi kepada Mossad selama bertahun-tahun dengan berlindung di balik bisnis perdagangan yang tampak sah. Investigasi menemukan mereka mengadakan pertemuan di negara ketiga, menggunakan sistem komunikasi terenkripsi, dan berencana menyusup ke rantai pasokan internasional dengan mendirikan perusahaan fiktif.

Dari Tambang Marmer ke Mata-Mata

Penyelidikan yang terus berlangsung mengungkapkan kisah rekrutmen yang dimulai hampir dua dekade lalu. Budak Derya, seorang insinyur pertambangan, pertama kali menarik perhatian Mossad pada tahun 2005 ketika ia membuka tambang marmer di pinggiran kota Silifke, Mersin, sebuah kota di pantai Mediterania Turki selatan, dan mulai berdagang dengan negara-negara asing.

Kontak pertama terjadi pada September 2012, ketika seseorang bernama Ali Ahmed Yassi, yang diyakini sebagai nama sandi, mengunjungi kantor Budak Derya. Yassin, yang menjalankan perusahaan Israel palsu, mengundang Derya ke pertemuan bisnis di Eropa pada Januari 2013, sebagaimana diberitakan Asharq al Awsath.

Di sinilah jebakan mulai mengerat. Dalam pertemuan tersebut, Derya diyakini bertemu agen Mossad untuk pertama kalinya. Mereka membahas perdagangan marmer, dan seorang agen Mossad bernama “Louis” memberi saran strategis: mempekerjakan warga negara Turki keturunan Palestina bernama Faisal Karimoglu.

Kedua pria itu kemudian diinstruksikan untuk secara teratur bertukar informasi tentang semua aktivitas bersama mereka. Sejak 2013, Budak Derya mengadakan serangkaian pertemuan dengan beberapa agen Mossad di negara-negara Eropa, membangun jaringan yang semakin kompleks.

0 Komentar