PERNAHKAH Anda merasa memikul beban emosi yang seolah-olah bukan milik Anda sendiri? Dalam dunia psikologi, fenomena ini disebut sebagai Trauma Antargenerasi, yaitu kondisi di mana luka batin yang belum sembuh dari satu generasi diwariskan ke generasi berikutnya.
Ibarat sebuah “estafet luka”, trauma ini merambat melintasi waktu, sehingga seorang cucu bisa merasakan kecemasan yang sumber aslinya mungkin berasal dari pengalaman pahit kakek atau neneknya.
Hal inilah yang menjelaskan mengapa beberapa keluarga memiliki pola ketakutan, amarah, atau kesedihan yang serupa, meskipun generasi mudanya tidak pernah mengalami peristiwa traumatis tersebut secara langsung.
Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalPrabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti Kena
Secara ilmiah, trauma ini tidak hanya berpindah lewat cerita, tetapi juga tertanam dalam biologi kita. Penelitian di bidang Epigenetik (Epigenetik adalah ilmu yang mempelajari bagaimana perilaku dan lingkungan Anda seperti stres, makanan, atau trauma dapat menyebabkan perubahan yang memengaruhi cara gen Anda bekerja) menunjukkan bahwa stres berat yang dialami leluhur bisa meninggalkan “jejak” kimiawi pada gen keturunan mereka.
Hal ini membuat seseorang terlahir dengan sistem “alarm” stres yang lebih sensitif. Secara psikologis, pola ini diperkuat melalui cara asuh yang terus “di-copy-paste” dari orang tua ke anak. Jika kecemasan dalam keluarga tidak disembuhkan, cara berkomunikasi yang buruk akan terus berulang dari generasi ke generasi seperti lingkaran yang sulit diputus.
Dampaknya sering kali muncul dalam bentuk yang samar namun merusak, seperti perasaan selalu waspada (seolah menunggu hal buruk terjadi), rasa bersalah tanpa alasan yang jelas, hingga kesulitan merasa aman saat menjalin hubungan dengan orang lain. Mereka yang tumbuh dalam bayang-bayang trauma ini sering kali merasa harus memikul tanggung jawab atas kebahagiaan seluruh anggota keluarganya.
Namun, penting untuk diingat bahwa kita bukan sekadar produk dari masa lalu. Anda bisa menjadi seorang cycle breaker atau pemutus rantai trauma. Langkahnya dimulai dengan berani mengakui rasa sakit yang dirasakan, menetapkan batasan yang sehat dalam keluarga, dan mencari bantuan profesional seperti terapi untuk mengurai emosi yang rumit tersebut.
Menghadapi trauma masa lalu memang berat, namun itulah satu-satunya cara agar beban tersebut berhenti di tangan Anda dan tidak lagi menjadi warisan bagi generasi mendatang
