“Orang tuanya itu beberapa kali menasehati kepada si korban ini untuk jangan hujan-hujanan, nanti sakit kepala. Dan kalau sakit kepala, nanti akhirnya tidak bisa sekolah,” ujar Andrey.
Namun diduga, kata Andrey omelan sang ibu itu, tak diterima dengan baik oleh YBR. “Mungkin ya yang namanya orang tua memberikan nasihatnya, mungkin penerimaan anak berbeda, dan mungkin merasa tersinggung,” ujar Andrey.
Dan ‘marahan’ sang ibu itu, pun memang berujung pada kondisi YBR yang berujung sakit sehingga dalam sepekan tak masuk sekolah. “Jadi begitu ceritanya yang kami dapatkan (dari penyelidikan),” ujar Andrey.
Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalAnda Tertarik Kasus Jeffrey Epstein? Begini Cara Unduh dan Akses Dokumen Resmi Departemen Kehakiman AS
Dari penelusuran tersebut, pun Andrey mengatakan keputusan YBR bunuh diri itu tak ada kaitannya dengan informasi selama ini tentang kekesalan si anak yang tak mampu membeli buku, maupun pulpen. “Jadi kalau untuk pulpen dan buku itu, kita perlu luruskan, karena fakta di lapangan, bukan di alat tulisnya itu. Melainkan karena sering dinasihati oleh orang tuanya, karena si anak dalam satu minggu itu beberapa kali tidak masuk sekolah,” ujar Andrey.
YBR ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri. Di dekat jasad anak 10 tahun itu ditemukan pesan perpisahan yang sedih ditulis YBR di atas secarik kertas untuk ibunya. Tulisan itu menggunakan bahasa lokal.
“Kertas Tii Mama Reti. Mama galo zee, Mama molo ja’o. Galo mata mae rita ee Mama. Mama jao galo mata. Mae woe rita nee gae ngao ee. Molo Mama.” Artinya, “Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dulu. Mama biarkan saya pergi. Jangan menangis ya, Mama. Mama saya pergi. Jangan menangis, jangan mencari saya. Selamat tinggal Mama.”
Diberitakan sebelumnya, sebelum YBR mengakhiri hidup, ada kesaksian tentang si anak yang meminta kepada ibunya untuk dibelikan pulpen dan buku tulis untuk pergi ke sekolah. Namun ibunya, tak mampu memenuhi permintaan si anak nahas tersebut.
