KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan dukacita mendalam atas wafatnya seorang murid sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Peristiwa bunuh diri siswa tersebut dinilai sebagai pengingat serius bahwa perlindungan anak tak cukup hanya melalui bantuan finansial, tetapi juga membutuhkan perhatian psikososial yang berkelanjutan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mengatakan kejadian tersebut menjadi keprihatinan bersama bagi dunia pendidikan.
Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalAnda Tertarik Kasus Jeffrey Epstein? Begini Cara Unduh dan Akses Dokumen Resmi Departemen Kehakiman AS
“Kami menyampaikan dukacita yang mendalam kepada keluarga, guru, dan seluruh warga sekolah. Ini bukan sekadar peristiwa biasa, tetapi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya memperhatikan kesejahteraan psikososial anak,” ujar Wamen Atip, Rabu (4/2).
Menurut Wamen Atip, kondisi emosional anak dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Karena itu, negara, sekolah, dan orang tua perlu menghadirkan ruang yang aman agar anak merasa didengar dan dihargai.
Kemendikdasmen mencatat murid yang wafat merupakan penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) dan bantuan telah disalurkan sesuai mekanisme. Namun, Wamen Atip menegaskan bahwa perlindungan anak dari keluarga rentan tidak boleh berhenti pada aspek finansial semata.
“Dukungan biaya pendidikan penting, tetapi pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif jauh lebih menentukan bagi anak,” jelas Wamen Atip.
Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk melakukan pendampingan kepada keluarga. Dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya juga sedang disiapkan.
“Kami memastikan keluarga tidak berjalan sendiri. Koordinasi lintas sektor dilakukan agar mereka mendapatkan akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan,” lanjut dia.
Wamen Atip menambahkan, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa satuan pendidikan bersama orang tua dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun komunikasi terbuka dengan anak. Anak perlu merasa aman untuk mengekspresikan kondisi emosionalnya tanpa rasa takut.
Baca Juga:Prabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti KenaAlan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan Michele
“Anak-anak harus merasa didengar, dihargai, dan mendapatkan pendampingan yang memadai dalam kesehariannya,” ucapnya.
