FENOMENA berpindahnya sejumlah tokoh politik senior dari partai mapan seperti NasDem, PKS, dan Demokrat ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI)—yang kini sering diasosiasikan dengan identitas baru di bawah pengaruh keluarga Jokowi—menunjukkan pergeseran peta kekuatan politik di Indonesia pasca-2024.
Tokoh-Tokoh Utama yang Berpindah
Migrasi ini melibatkan nama-nama besar yang memiliki basis massa dan pengalaman strategis, di antaranya:
- Ahmad Ali (Eks Waketum NasDem): Bergabung dengan PSI dan langsung menduduki posisi strategis sebagai Ketua Harian. Ia menyebut PSI sebagai “partai masa depan”.
- Bestari Barus (Eks Kader NasDem): Secara terang-terangan menyatakan bahwa keputusannya pindah dipicu oleh pidato Jokowi yang menyatakan akan bekerja keras untuk PSI.
- Rusdi Masse (Eks Ketua DPW NasDem Sulsel): Tokoh kunci di Sulawesi Selatan yang turut membawa gerbong kekuatannya ke partai berlogo bunga mawar ini (sebelumnya sering disebut sebagai partai “anak muda” atau secara metaforis dikaitkan dengan kekuatan baru di belakangnya).
Faktor Pendorong Utama (The Drive Factors)
A. Jokowi Effect sebagai Magnet Politik
Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalAnda Tertarik Kasus Jeffrey Epstein? Begini Cara Unduh dan Akses Dokumen Resmi Departemen Kehakiman AS
Kehadiran Joko Widodo di lingkaran PSI memberikan legitimasi politik yang sangat kuat. Bagi politisi senior, Jokowi bukan sekadar mantan presiden, melainkan simbol “pemenang” yang memiliki tingkat kepuasan publik (approval rating) yang tetap tinggi. Masuknya Jokowi memberikan sinyal bahwa PSI adalah kendaraan politik utama untuk melanjutkan visi dan pengaruh “Jokowisme”.
B. Re-Branding: Dari Partai “Anak Muda” ke Partai “Pemerintah/Keluarga”
Dulu PSI dikenal sebagai partai yang hanya mengandalkan narasi anak muda dan anti-korupsi. Namun, sejak Kaesang Pangarep menjadi Ketua Umum dan keterlibatan aktif Jokowi, PSI bertransformasi menjadi “partai penguasa bayangan”. Hal ini menarik bagi politisi pragmatis yang ingin tetap berada dalam lingkar kekuasaan atau mencari perlindungan politik.
C. Konflik Internal dan Re-Orientasi di Partai Asal
- NasDem: Pasca-dukungan terhadap Anies Baswedan yang berseberangan dengan kubu pemerintah, terjadi friksi internal. Beberapa kader yang merasa lebih nyaman dengan garis politik Jokowi memilih untuk hengkang.
- Demokrat dan PKS: Meskipun belum semasif NasDem, pergeseran beberapa kader menunjukkan adanya pencarian platform yang dianggap lebih “dinamis” dan menjanjikan akses langsung ke pusat kekuasaan baru.
