“Hal itu menimbulkan pertanyaan tentang tekanan politik di tingkat senior, meskipun sumbernya tidak jelas,” kata Kiriakou.
Ia kemudian menambahkan bahwa dalam pola operasi intelijen semacam ini, Epstein bisa saja berfungsi sebagai agen ganda yang tidak sepenuhnya setia pada satu pihak, termasuk kemungkinan bertindak bertentangan dengan kepentingan Israel atau aktor lain.
Pandangan ini menempatkan dugaan keterlibatan intelijen asing dalam kerangka yang lebih luas, bukan sekadar gosip politik atau teori konspirasi yang beredar di media sosial.
Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalAnda Tertarik Kasus Jeffrey Epstein? Begini Cara Unduh dan Akses Dokumen Resmi Departemen Kehakiman AS
Meskipun Kiriakou tidak menyebut secara eksplisit negara mana yang diduga memanfaatkan Epstein, spekulasi tentang keterlibatan jaringan intelijen asing telah lama beredar di ruang publik.
Selain itu, sejumlah analis berpendapat bahwa Epstein berpotensi digunakan sebagai sumber keuntungan strategis dengan cara mengumpulkan bukti sensitif tentang para tokoh elite dunia yang dapat dimanfaatkan untuk memengaruhi atau menekan mereka di kemudian hari
Sejumlah analis bahkan mengaitkan spekulasi ini dengan pernyataan tidak langsung dari beberapa tokoh di lingkaran intelijen yang menggambarkan Epstein sebagai aset intelijen asing yang berpotensi menguntungkan layanan intelijen tertentu.
Namun, hingga kini tidak ada badan intelijen mana pun yang secara resmi mengonfirmasi klaim tersebut, sehingga status dugaan ini tetap berada pada ranah interpretasi dan perdebatan publik, bukan fakta yang telah diverifikasi.
Di sisi lain dari perdebatan yang lebih luas soal implikasi Epstein terhadap keamanan global, Kiriakou juga menyuarakan keprihatinan mengenai arah kebijakan pertahanan Amerika Serikat.
Ia memperingatkan bahwa lonjakan belanja militer AS mendekati USD 1 triliun per tahun, jumlah yang sangat besar dibanding sekutu dan pesaing utama berisiko mendorong negara itu ke dalam krisis fiskal serius, sembari menyatakan bahwa Tiongkok fokus pada pembangunan infrastruktur dan perencanaan jangka panjang.
Perkembangan terbaru dalam seri dokumen Epstein Files yang dirilis pada Jumat (30/1) lalu juga menimbulkan kritik bahwa dokumen-dokumen tersebut hanya sebagian dibuka kepada publik dan menyisakan banyak pertanyaan tentang hubungan Epstein dengan individu berpengaruh serta kemungkinan keterlibatan badan intelijen.
Baca Juga:Prabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti KenaAlan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan Michele
Kritik ini mencerminkan ketidakpuasan luas atas kurangnya transparansi penuh dalam kasus yang memengaruhi pandangan global terhadap kekuasaan, intelijen, dan hukum.
