PENULIS buku Gibran The Next President ini kembali jadi sorotan publik. Ahmad Bahar melalui buku terbarunya yang berjudul Raport Merah Sang Jenderal Listyo Sigit Prabowo, mengulas beberapa hal yang memperlihatkan bagaimana aparat kepolisian mengambil langkah-langkah yang terkesan menutup demokrasi.
Kemunculan bukunya ini berbarengan saat seruan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo agar seluruh jajarannya berjuang sampai titik darah penghabisan dalam pelaksanaan tugas kepolisian di bawah presiden, memantik perhatian publik.
“Indek demokrasi turun, banyak kriminalisasi hukum, maraknya budaya setoran, no viral no justice dan lain-lain,” katanya, saat pra launching buku terbarunya di Yogyakarta, Jumat (30/1).
Baca Juga:Anda Tertarik Kasus Jeffrey Epstein? Begini Cara Unduh dan Akses Dokumen Resmi Departemen Kehakiman ASPrabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti Kena
Buku setebal 240 halaman itu disusun Ahmad Bahar dengan harapan menjadi sebuah pengingat Korps Bhayangkara untuk berbenah dan menjunjung tinggi integritas.
Selain itu, Bahar juga berharap karya sastranya ini membuka cakrawala berpikir tentang kondisi Polri saat ini.
“Mengkritik Polri bukan berarti benci tetapi justru cara seorang penulis peduli dengan korp baju coklat ini,” terangnya usai bertemu dengan Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais, Senin (2/2).
Menurut Bahar, ada cerita panjang saat menyambangi politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) ini di Yogyakarta. “Pak Amin Rais itu dulu pernah berseberangan dengan saya. Di Indonesia itu dulu ada lima musuhnya Pak Amin. Nomor lima itu namanya Ahmad Bahar,” ungkapnya, Rabu (4/2).
“Alhamdulillah bisa rujuk, bisa rangkulan dan sekian purnama sudah terlewati. Saya juga memang bukan hanya karena kepentingan buku ini. Saya sudah lama ingin bertemu, hanya kesempatan yang belum ada,” imbuhnya.
Lebih lanjut, kata Bahar, saat di Yogyakarta selain bertemu dengan Amien Rais berikutnya Mahfud MD. “Hanya Pak Mahfud belum sempat ketemu dan surat sudah kita berikan. Intinya Pak Amin sangat mengapresiasi buku yang saya tulis itu. Nyaris banyak data yang menurut beliau relatif baru. Salah satunya informasi tentang banyaknya budaya setoran yang sampai hari ini tetap belum berubah,” papar Bahar.
Ia menambahkan polisi menjadi tidak profesional. “Untuk menjadi Kapolres misalnya harus bayar dengan nilai tertentu kan itu sangat mengecewakan. Bisa jadi, mohon maaf seorang yang sebenarnya tidak memiliki kapabilitas untuk menjadi Kapolres karena punya uang dia bayar. Ada hal lain yang memang sangat mengerikan dan itu juga saya ungkap di dalam buku ini. Yaitu soal semacam kenapa sih menjadi Kapolri kok seneng banget gitu. Kayak punya sendiri gitu loh, kayak rumahnya sendiri, kayak organisasinya sendiri. Padahal dia kan dibatasi oleh ruang dan waktu,” jelas Bahar.
