JEFFREY Epstein, meski dihukum atas kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur, tetap menjadi figur yang dicari dan dihormati oleh pebisnis, akademisi, jurnalis, politisi, hingga anggota keluarga kerajaan.
Jejaring sosialnya menunjukkan satu kenyataan yang mengejutkan: kekuasaan, koneksi, dan pengaruh bisa menutupi bahkan tindakan kriminal paling serius di lingkaran elit global.
Epstein tidak bergerak sendirian. Dari keluarga kerajaan Inggris hingga alumni Gedung Putih, dari investor Silicon Valley hingga akademisi beraliran kiri, jaringan relasi menjadi mata uang utama yang menjamin posisi sosialnya.
Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalAnda Tertarik Kasus Jeffrey Epstein? Begini Cara Unduh dan Akses Dokumen Resmi Departemen Kehakiman AS
Menariknya, tidak seorang pun tampak menantang atau mengutuk kejahatannya. Sikap diam dan santai elit terhadapnya seolah menormalisasi perilaku Epstein, memperlihatkan bagaimana lingkaran kekuasaan dapat melindungi pelaku kejahatan dari konsekuensi nyata.
Mengutip The Guardian dan laporan rilis dokumen terbaru pada Jumat (30/1/2026), Departemen Kehakiman AS (U.S. Department of Justice/DOJ) mempublikasikan jutaan halaman dokumen terkait Jeffrey Epstein yang sebelumnya belum pernah diungkap ke publik.
Rilisan dokumen ini merupakan bagian dari Epstein Files Transparency Act, yang mewajibkan pengungkapan penuh semua materi terkait kasus Epstein dan Ghislaine Maxwell yang tidak dikecualikan secara hukum. Dokumen itu mencakup email, catatan komunikasi, serta bukti hubungan Epstein dengan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia politik dan bisnis.
Dalam konteks ini, rilis terbaru berkas Epstein mengungkap bahwa Jeffrey Epstein tetap menjalin komunikasi dengan eksekutif bisnis, jurnalis, akademisi, hingga politisi, meski telah mengaku bersalah pada 2008 atas perekrutan prostitusi anak di bawah umur. Dokumen ini menggabungkan catatan lama dan baru, memperluas gambaran jaringan Epstein jauh melampaui yang sebelumnya terungkap melalui dokumen House Oversight Committee.
Meski telah meninggal dunia pada 2019 setelah didakwa atas perdagangan seksual, dokumen ini menyingkap fakta yang lebih menakutkan: bukan sebuah konspirasi rahasia, melainkan sistem kekuasaan yang berjalan terang-terangan, acuh terhadap hukum dan moral.
Sepanjang 2009 hingga 2019, surat elektronik atau email singkat Epstein yang penuh kekacauan tata bahasa dan ejaan nyatanya tidak menjerat kontaknya, termasuk Donald Trump, dalam aktivitas kriminal.
Namun, dokumen itu menunjukkan dengan jelas bagaimana beberapa lingkar kenalannya memberinya dukungan saat menghadapi masalah hukum, sementara yang lain malah meminta perkenalan atau nasihat, mulai dari urusan asmara hingga harga minyak.
