KEJAKSAAN Agung (Kejagung) angkat bicara mengenai usulan menghadirkan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) untuk diperiksa dalam sidang kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah. Pernyataan tersebut sebelumnya dinyatakan mantan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahja Poernama alias Ahok.
“Iya relevansinya itu kan kami lihat si engga relevan lah itu ya,” kata Direktur Penuntutan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Dirtut JAM Pidsus) Kejagung, Riono Budi Santoso, di Gedung Puspenkum, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Dia menerangkan, penghadiran saksi dalam persidangan bisa saja dilakukan apabila ada permintaan dari hakim. Namun, sampai saat ini tidak ada perintah menghadirkan Jokowi.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Sejauh ini, kata Riono, nama Jokowi sendiri muncul dari keterangan saksi dalam persidangan. Sedangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), Jokowi tidak pernah dimintai keterangan.
“Wah itu kan ya saksi yang bersangkutan yang ngomong kan. Kalau kami mendasarkan pada apa yang kami jadwalkan ya. Sesuai dengan yang sudah disusuh dari apa yang memberikan keterangan dalam BAP,” ungkap dia.
Sebelumnya, dalam sidang Ahok meminta jaksa untuk memeriksa Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) soal pencopotan dua mantan direktur anak usaha Pertamina yakni Djoko Priyono dan Mas’ud Khamid. Padahal, menurutnya, dua orang tersebut adalah sosok terbaik di perusahaan tersebut.
Ahok menuturkan seluruh arahan yang ia berikan sebagai komisaris utama selalu dijalankan oleh keduanya. Dia menyinggung sikap Mas’ud Khamid yang menolak menandatangani dokumen pengadaan apabila ditemukan potensi penyimpangan.
“Makanya saya bilang ini adalah salah satu terbaik yang kita punya. Pak Djoko ini, ini orang kilang, asli dari kilang. Ini orang menurut saya adalah orang yang terbaik pengetahuan tentang kilang, dia yang kasih tahu saya kelemahan kilang, apa yang mau diberbaiki,” katanya.
Ahok mengaku sangat sedih ketika mengetahui Joko Priyono dicopot dari jabatannya. Ia bahkan sempat menghubungi langsung yang bersangkutan.
“Saya pikir BUMN ini keterlaluan gitu lo, mencopot orang yang bukan miritokrasi. Kenapa orang yang mau melakukan yang saya lakukan dicopot? ini orang terbaik pak Joko itu, makanya saya tulis dicopot,” kata dia.
