MUNDUR Iman Rachman dari jabatan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) disambut positif oleh pasar. Sebab, langkah ini dinilai sebagai upaya pertanggungjawaban Iman terhadap kondisi bursa belakangan yang anjlok pasca dirilisnya laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Karena itu, ia pun menyarankan para investor saham untuk sebanyak-banyaknya membeli saham.
“Ini positif kalau orang yang ngerti. Buy, serok-serok,” kata dia sembari berkelakar kepada awak media di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Jumat (30/1/2026).
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Selain mundurnya Iman Rachman dari pucuk pimpinan bursa, upaya perbaikan pasar modal melalui kebijakan demutualisasi serta peningkatan batas free float saham menjadi 15 persen dinilai akan memberikan sinyal positif ke pasar keuangan global ke depannya. Dengan demikian, seiring pasar modal Indonesia yang semakin berkembang, jumlah investor yang masuk juga akan semakin banyak, baik ke pasar modal maupun ke sektor riil.
“Jadi, yang ragu-ragu mestinya akan lebih yakin bahwa arah ke depan adalah lebih baik. Jadi, mereka (investor) akan investasi di pasar modal maupun di sektor riil, di FDI (Foreign Direct Investment/Penanaman Modal Asing),” lanjut Purbaya.
Sebelumnya, mantan anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (DK LPS) itu meyakini anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir hanya bersifat sementara, lantaran fondasi ekonomi Indonesia dinilai cukup kuat. Meski begitu, ia menyarankan investor yang khawatir terhadap kondisi ini untuk beralih ke saham-saham blue chip—saham perusahaan berfundamental kuat dengan kinerja apik.
“Yang besar-besar kan masih ada, yang saham-saham yang blue chip itu kan naiknya belum terlalu tinggi. Kalau ada yang takut, lari aja ke situ,” kata dia kepada awak media di selasar Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026).
Meski begitu, menurutnya, anjloknya pasar saham terjadi karena pasar cukup terkejut (shock) dengan kemungkinan bahwa pasar saham Indonesia dianggap sebagai pasar frontier.
Sebagai informasi, pasar frontier merupakan tingkatan pasar modal di sebuah negara yang lebih maju dibandingkan negara termiskin (underdeveloped), namun masih belum cukup berkembang, likuid, atau terbuka untuk dikategorikan sebagai emerging market (pasar berkembang).
