PRESIDEN Prancis Emmanuel Macron menyerukan kebangkitan Eropa untuk memperkuat perlindungan kedaulatan, menyusul ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memicu ketegangan geopolitik terkait Greenland.
Seruan tersebut disampaikan Macron dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan Perdana Menteri Greenland Jens Frederik Nielsen, usai pertemuan mereka pada Rabu (28/1).
“(Kebuntuan dengan AS soal Greenland) menjadi peringatan strategis bagi Eropa,” kata Macron, dikutip Euro News, Kamis (29/1).
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Menurut Macron, kebangkitan Eropa harus diarahkan pada penguatan kedaulatan dan peran strategis kawasan.
“Harus fokus ke penegasan kedaulatan Eropa kita, pada kontribusi kita terhadap keamanan Arktik, pada perjuangan melawan campur tangan asing dan disinformasi, dan pada perjuangan melawan pemanasan global,” sebutnya.
Pertemuan Macron dengan Frederiksen dan Nielsen disebut sebagai bentuk dukungan politik Prancis terhadap Denmark dan Greenland di tengah tekanan dari Washington.
Dalam pertemuan itu, ketiganya membahas berbagai tantangan keamanan di kawasan Arktik, serta peluang pembangunan ekonomi dan sosial Greenland yang siap didukung oleh Prancis dan Uni Eropa.
Frederiksen dalam kesempatan yang sama menilai situasi terkini menjadi pelajaran penting bagi negara-negara Eropa.
“Saya pikir Eropa sudah belajar beberapa pelajaran selama beberapa minggu terakhir,” ujarnya.
Ia juga menegaskan peran strategis Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di kawasan tersebut.
“NATO akan memainkan peran penting di Arktik,” tegas Frederiksen.
Baca Juga:Kelompok True Crime Community Tumbuh Organik dan Sporadis Tanpa Tokoh SentralTokoh Utama Gerakan GenZ yang Gulingkan Sheikh Hasina, Sharif Osman Hadi Jadi Korban Pembunuhan Berencana
Sementara itu, Perdana Menteri Greenland Jens Frederik Nielsen menyoroti aspek politik dan ideologis dari kerja sama dengan Prancis.
Ia menilai kemitraan antara Paris dan Greenland tidak semata menyangkut kepentingan wilayah, melainkan bagian dari upaya bersama untuk menjaga nilai-nilai demokrasi.
“Kemitraan ini bukan hanya tentang Greenland, tetapi juga tentang pembelaan terhadap nilai-nilai demokrasi,” ujarnya.
Langkah solidaritas Eropa ini berlangsung di tengah persiapan Prancis untuk memperkuat kehadiran diplomatiknya di kawasan Arktik.
Pemerintah Prancis berencana membuka konsulat di Nuuk, ibu kota Greenland yang berstatus wilayah semi-otonom Denmark, pada 6 Februari mendatang.
Pembukaan konsulat tersebut dipandang sebagai sinyal komitmen Prancis dan Uni Eropa dalam mendukung stabilitas, kedaulatan, serta kerja sama strategis di kawasan Arktik.
