KANSELIR Jerman Friedrich Merz kembali mengatakan bahwa nasib rezim pemerintah Iran tinggal menghitung hari. Hal ini disampaikannya seiring Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman serangan militer terhadap Iran terkait penindakan terhadap para demonstran.
“Rezim yang hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan dan teror terhadap penduduknya sendiri: hari-harinya sudah dihitung,” kata Merz dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Rumania Ilie Bolojan pada Rabu (28/1) waktu setempat.
“Mungkin hanya beberapa minggu lagi, tetapi rezim ini tidak memiliki legitimasi untuk memerintah negara,” tambah Merz dilansir AFP dan Al Arabiya, Kamis (29/1/2026).
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
“Jumlah korban tewas yang dilaporkan mencapai ribuan selama demonstrasi baru-baru ini menunjukkan bahwa rezim mullah tampaknya hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui teror semata,” kata Kanselir Jerman tersebut.
Salah satu kelompok hak asasi manusia – Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS – mengatakan bahwa mereka telah memverifikasi lebih dari 6.200 kematian dalam gelombang aksi demo antipemerintah sejak akhir Desember lalu.
Para aktivis mengatakan jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi, dengan pemadaman internet yang masih mempersulit upaya untuk mengkonfirmasi informasi tentang jumlah korban jiwa.
Merz juga mendukung upaya Italia untuk meminta Uni Eropa menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris.
“Saya sangat menyesal bahwa masih ada satu atau dua negara di Uni Eropa yang belum siap untuk mendukung penetapan tersebut,” kata Merz.Sementara itu, Trump pada Rabu (28/1) memperingatkan Iran bahwa waktu hampir habis bagi negara itu untuk menghindari intervensi militer AS. Peringatan itu disampaikan setelah Teheran menolak membuka pintu negosiasi di tengah meningkatnya ketegangan.
Dilansir AFP, Rabu (28/1/2026), Trump menegaskan dirinya tidak pernah mengesampingkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran, menyusul penindakan brutal terhadap gelombang protes bulan ini. Ketegangan juga masih dipicu dampak perang 12 hari pada Juni lalu antara Iran dan Israel yang didukung dan diikuti oleh AS.
“Semoga Iran segera ‘Datang ke Meja Perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata -tanpa senjata nuklir- kesepakatan yang baik untuk semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!” kata Trump.
