INDONESIA menolak tuntutan Amerika Serikat untuk membeli drone buatan AS sebagai bagian dari perjanjian perdagangan antara kedua negara, demikian dilaporkan surat kabar The Straits Times dengan mengutip sumber-sumber terkait seperti dikutip Antara.
Indonesia telah menyetujui sejumlah besar persyaratan yang diajukan Amerika Serikat dalam perundingan perdagangan, termasuk rencana untuk mengimpor bahan bakar dari AS sebagai pengganti Singapura, menurut laporan tersebut pada Rabu.
Namun, Indonesia menolak ketentuan yang dinilai melanggar konstitusi, termasuk tuntutan untuk membeli drone AS guna mengawasi Laut Cina Selatan, tambah laporan itu.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Indonesia dan AS berada di tahap akhir pembicaraan mengenai kesepakatan tarif timbal balik, yang akan membuat AS menurunkan tarif impor terhadap perekonomian terbesar di Asia Tenggara dari yang sebelumnya diancamkan sebesar 32 persen menjadi 19 persen.
Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$18 miliar dengan AS pada 2024. Sebagai imbalan atas penurunan tarif, Indonesia harus memberikan konsesi untuk menyeimbangkan perdagangannya dengan Amerika.
Indonesia telah menerima tuntutan AS untuk melonggarkan pembatasan impor mobil Amerika. Jakarta juga telah setuju untuk menghapus hambatan non-tarif, khususnya “persyaratan konten lokal”, untuk produk AS di tiga sektor utama – teknologi informasi dan komunikasi, peralatan medis, serta peralatan pusat data, kata kedua pejabat tersebut.
Konsesi ini signifikan. Raksasa teknologi AS, Apple, memimpin pasar telepon seluler Indonesia berdasarkan pendapatan, dengan impor iPhone senilai sekitar US$2 miliar per tahun, menurut data pemerintah.
Penjualan peralatan medis AS, seperti pemindai MRI dan CT dari GE HealthCare, bernilai sekitar US$100 juta per tahun, dan perusahaan raksasa AS seperti Hewlett-Packard, Dell Technologies, dan IBM saat ini mendominasi pasar peralatan pusat data Indonesia.
Indonesia juga berjanji untuk mengimpor bahan bakar dari AS secara signifikan sambil mengurangi pembelian dari Singapura. Lebih dari setengah impor bahan bakar Indonesia berasal dari Singapura, yang memurnikan minyak mentah dari Timur Tengah, Australia, dan Malaysia, lapor ST pada Mei 2025, sementara AS menyumbang kurang dari 0,1 persen dari impor bahan bakar Indonesia pada tahun 2024.
