PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan tidak akan mengakui Palestina, meskipun dirinya sudah memastikan bergabung dengan Board of Peace atau Dewan Perdamaian.
Melalui keterangan pers, Netanyahu memperingatkan bahwa misi selanjutnya adalah melucuti senjata Hamas, sebelum melanjutkan pembangunan kembali Gaza. Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk Gaza mewajibkan pelucutan senjata kelompok teroris tersebut, tetapi ada keraguan luas di Israel bahwa Hamas akan setuju untuk meletakkan senjatanya.
Penarikan pasukan Israel lebih lanjut dari Gaza terkait dengan pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi wilayah tersebut sesuai rencana. Netanyahu menegaskan bahwa kepentingan politik dan keamanan Israel akan terpenuhi dan bahwa rekonstruksi hanya dapat terjadi setelah demiliterisasi.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
“Seperti yang saya sepakati dengan Presiden Trump hanya ada dua kemungkinan: ini akan dilakukan dengan cara mudah, atau akan dilakukan dengan cara sulit, tetapi dalam hal apa pun, itu akan terjadi,” kata Netanyahu tentang pelucutan senjata, seperti dikutip dari Times of Israel, Kamis 29 Januari 2026.
“Saya sudah mendengar pernyataan bahwa kita akan mengizinkan rekonstruksi Gaza sebelum demiliterisasi. Itu tidak akan terjadi,” tegas Netanyahu.
Ia mengatakan bahwa pembukaan penyeberangan tersebut disetujui oleh Israel dalam rencana Gaza 20 poin Trump, tetapi bersyarat pada pemenuhan kewajiban Hamas dalam fase pertama rencana tersebut, yang kini telah tercapai dengan kembalinya Gvili. Dan ia menegaskan bahwa Israel akan terus mempertahankan kendali keamanan secara keseluruhan di Rafah.
“Negara Palestina di Gaza tidak akan terjadi,” tegas Netanyahu sekaligus dan memuji upayanya untuk “berulang kali” menghentikan pembentukan negara tersebut.
Netanyahu menegaskan bahwa Penyeberangan Perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir “akan dibuka di kedua arah” ketika akhirnya kembali beroperasi dalam waktu dekat. Ia mengatakan bahwa ia tidak mengetahui jumlah pasti pejalan kaki yang akan diizinkan masuk ke Gaza setiap hari, tetapi memperkirakan jumlahnya sekitar “50 orang ditambah anggota keluarga yang datang.”
“Kami tidak akan mencegah siapa pun untuk pergi,” tambahnya.
