Akan tetapi, pada Senin (26/1), Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyatakan bahwa Eropa tak dapat membela diri jika kesepakatan NATO dibubarkan atau kerja sama militer Uni Eropa dan AS diakhiri.
“Jika ada yang berpikir bahwa Uni Eropa atau Eropa secara keseluruhan dapat membela diri tanpa AS, teruslah bermimpi. Anda tidak bisa,” kata Rutte di Parlemen Eropa.
Dalam pernyataan itu, Uni Eropa kini tak punya fasilitas yang memadai untuk menjaga wilayahnya dari potensi senjata nuklir. Jika kerja sama militer dengan AS diakhiri, Rutte menyebut Uni Eropa harus mengeluarkan “miliaran dan miliaran” euro untuk membangun senjata nuklir sendiri.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
“Anda akan kehilangan penjamin utama kebebasan kita, yaitu payung nuklir AS,” kata mantan Perdana Menteri Belanda itu.
Meski begitu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot membalas pernyataan pemimpin NATO itu. Melalui akun X pribadinya, Barrot menyatakan bahwa “orang Eropa dapat dan harus bertanggung jawab atas keamanan mereka sendiri”.
Prancis sejauh ini menjadi salah satu aktor yang paling gencar mengkampanyekan seruan bagi Uni Eropa untuk bersatu melawan ancaman Trump. Pada Rabu (28/1) ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron memiliki agenda temu dengan pemimpin Denmark dan Greenland di Paris.
Menurut Kantor Kepresidenan Paris, Macron disebut akan “menegaskan kembali solidaritas Eropa dan dukungan Prancis untuk Denmark, Greenland, kedaulatan mereka, dan integritas teritorial mereka”.
