BANYAK orang tua yang berusaha beralih dari pola asuh otoriter sering kali terjebak dalam kerancuan antara Gentle Parenting dan Permissive Parenting. Padahal, perbedaan keduanya terletak pada satu garis tegas: batasan (boundaries).
Gentle parenting berakar pada gaya otoritatif yang menggabungkan kehangatan tinggi dengan standar perilaku yang jelas, di mana orang tua berperan sebagai pemimpin yang berwelas asih.
Sebaliknya, pengasuhan permisif justru membuat orang tua kehilangan kendali demi menghindari konflik sesaat, yang tanpa disadari membuat anak merasa cemas karena kehilangan “pagar” atau panduan dalam berperilaku.
Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv
Secara psikologis, landasan utama gentle parenting adalah Teori Kelekatan (Attachment Theory) yang menempatkan orang tua sebagai “jangkar” yang memvalidasi emosi anak tanpa membiarkan perilaku buruk tetap terjadi.
Misalnya, saat anak memukul, orang tua tidak hanya membujuk, tetapi dengan tegas menetapkan konsekuensi logis sambil tetap menghargai perasaan anak. Pendekatan ini sangat krusial bagi perkembangan prefrontal cortex anak, karena melatih kecerdasan emosional dan kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification).
Tanpa batasan yang konsisten, anak akan sulit beradaptasi dengan aturan di dunia nyata yang tidak selalu memenuhi keinginan mereka secara instan.
Pada akhirnya, memilih menjadi orang tua yang lembut bukan berarti menjadi lemah atau selalu menuruti keinginan anak. Ini adalah kerja keras untuk tetap tenang di tengah badai emosi anak sambil tetap teguh pada nilai-nilaiyang telah ditetapkan.
Menghadapi tangisan anak karena adanya batasan bukanlah tanda kegagalan, melainkan proses penting untuk membentuk karakter yang tangguh. Dengan memberikan cinta tanpa syarat yang dibarengi batasan yang kokoh, kita membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya merasa dicintai, tetapi juga memiliki kompas moral dan disiplin diri yang kuat.
Penulis: Icasia Kleantha Wijaya, Alumni Psikologi UKSW 2025
