Laporan The New York Times: Kapal Induk USS Abraham Lincoln Siap Lakukan Operasi Lawan Iran

Kapal induk USS Abraham Lincoln dan Angkatan Udara B-52H Stratofortress, melakukan latihan bersama di AS. Wil
Kapal induk USS Abraham Lincoln dan Angkatan Udara B-52H Stratofortress, melakukan latihan bersama di AS. Wilayah tanggung jawab Komando Pusat di Laut Arab 1 Juni 2019. (Mass Communication Specialist 1st Class Brian M. Wilbur/U.S. Navy via AP, File)
0 Komentar

KAPAL induk USS Abraham Lincoln akan siap melakukan operasi melawan Iran dalam satu sampai dua hari, menurut laporan The New York Times pada Senin (26/1/2026). Pasukan Amerika Serikat (AS) juga dilaporkan telah mengirimkan belasan jet tempur tambahan untuk memperkuat kelompok penyerang mereka di wilayah tersebut.

Sebelumnya, dengan mengutip seorang pejabat AS, Fox Newsmelaporkan bahwa kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah memasuki wilayah tanggung jawab CENTCOM di Samudra Hindia. Pada 22 Januari, Presiden AS Donald John Trump mengatakan, kapal-kapal Angkatan Laut AS bergerak menuju Iran “untuk berjaga-jaga.”

Sebelumnya, Trump menolak memberikan jawaban pasti atas pertanyaan apakah opsi intervensi militer di Iran telah dihapus. Dia hanya mengatakan, tidak dapat mengatakan apa yang akan terjadi pada masa depan.

Baca Juga:Alan Jackson, Pengacara Pembela Nick Reiner Undur Diri di Kasus Pembunuhan Rob dan MicheleDokumen Rahasia Bocor: UEA Dukung Israel Sepanjang Genosida Gaza, Hubungan Strategis Abu Dhabi-Tel Aviv

Sementara itu, Pemerintah Iran bersiap menghadapi serangan rudal baru dari AS dan Israel setelah diumumkan, kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln telah mengerahkan aset-aset penting ke wilayah tersebut, menurut para pengamat. Diperkirakan Washington memiliki daya tembak yang cukup, bersama dengan pesawat Israel, untuk melancarkan serangan yang dirancang untuk menggulingkan pemerintah Iran.

Armada AS, termasuk beberapa kapal perusak rudal berpemandu, belum berada di posisi akhir tetapi sudah berada dalam jangkauan serang Iran. Tidak ada kepastian bahwa serangan AS lebih lanjut terhadap Iran akan memicu kembali protes jalanan, karena banyak warga Iran yang menentang kepemimpinan ulama yang berkuasa sejak 1979 juga menentang perubahan rezim yang dipaksakan dari luar.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani mengeklaim, AS berusaha menghancurkan kohesi sosial Iran sebelum serangan. Dia mengatakan, upaya Donald Trump untuk menggambarkan “negara itu berada dalam keadaan darurat itu Presiden merupakan bentuk peperangan, dan inilah yang ingin dicapai musuh.

Dia menuding, para perusuh merupakan kelompok perkotaan dengan karakteristik seperti teroris. Ketika mereka bergegas menuju pusat militer dan polisi untuk mendapatkan senjata, itu menunjukkan bahwa mereka berusaha memprovokasi perang saudara. “Kali ini, taktik AS adalah pertama-tama menghancurkan kohesi publik dan baru kemudian melakukan serangan militer,” ucap Ali dikutip dari The Guardian.

0 Komentar